22 Tahun Rayakan Warisan Rasa di Empat Kota

1 jam yang lalu 1
22 Tahun Rayakan Warisan Rasa di Empat Kota Summarecon Mall menggelar pagelaran kuliner serentak di Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, dan Bandung.(Dok. MI)

FESTIVAL kuliner sekarang tak lagi sekadar menjadi tempat berburu makanan, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari style hidup, ruang rekreasi, hingga tempat masyarakat menemukan kembali cerita di kembali sebuah rasa. Menangkap perubahan itu, Summarecon Mall kembali menggelar pagelaran kuliner secara serentak di Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, dan Bandung sepanjang Agustus hingga September 2026, melanjutkan perjalanan nan telah dibangun selama 22 tahun.

Director Summarecon, Soegianto Nagaria mengatakan, kuliner mempunyai posisi krusial lantaran tidak hanya berangkaian dengan cita rasa, tetapi juga menyimpan cerita dan identitas budaya masyarakat.

“Kuliner merupakan bagian nan tidak terpisahkan dari budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Beragam sajian kuliner tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga membawa cerita, tradisi, dan nilai nan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia,” ujar Soegianto, belum lama ini.

Menurut dia, kekayaan tersebut perlu terus dijaga agar tidak berakhir pada satu generasi. Festival kuliner menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan makanan legendaris, cita rasa daerah, hingga tradisi nan menyertainya.

“Inilah nan mau terus kami jaga agar kekayaan tersebut tetap ada dan dinikmati dari generasi ke generasi,” katanya.

Upaya tersebut melangkah beriringan dengan support terhadap pelaku upaya kuliner, termasuk UMKM nan selama ini menjadi bagian krusial dalam menjaga keberagaman rasa di Indonesia.

“Di sisi lain, kami juga mau para pelaku UMKM nan menjadi bagian krusial dari kekayaan kuliner Indonesia mempunyai kesempatan semakin mengembangkan usahanya,” tutur Soegianto.

Ia berambisi konsistensi penyelenggaraan pagelaran nan sudah berjalan selama lebih dari dua dasawarsa dapat memberikan faedah bagi masyarakat sekaligus membuka kesempatan lebih besar bagi pelaku usaha.

“Kami berambisi apa nan telah melangkah selama 22 tahun ini dapat terus memberikan manfaat, baik bagi masyarakat maupun bagi para pelaku upaya kuliner Indonesia,” ujarnya.

Dari Kelapa Gading, Menyebar ke Empat Kota

Perjalanan pagelaran kuliner Summarecon bermulai dari Kelapa Gading pada 2004 melalui Kampoeng Tempo Doeloe (KTD). Saat itu, KTD menjadi bagian dari JF3 Food Festival hasil kerjasama Summarecon dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Semangat nan dibangun sejak awal bukan sekadar mengumpulkan pedagang makanan dalam satu lokasi. Festival tersebut menjadi ruang untuk merayakan keragaman kuliner sekaligus membangun kebersamaan antara pengunjung, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.

Konsep itu kemudian berkembang ke Serpong, Bekasi, hingga Bandung. Masing-masing pagelaran datang dengan identitas sendiri, tetapi tetap membawa benang merah nan sama: mempertemukan kuliner, hiburan, budaya, dan pengalaman dalam satu ruang.

Pada Agustus 2026, empat pagelaran itu kembali digelar nyaris bersamaan. Festival Kuliner Serpong berjalan pada 13 Agustus hingga 13 September, Kampoeng Tempo Doeloe pada 14 Agustus hingga 27 September, Hungry Playground di Bekasi pada 14 Agustus hingga 20 September, sedangkan Festival Kuliner Bandung berjalan pada 25 Agustus hingga 27 September 2026.

KTD Bawa 140 Lebih Tenant Kuliner Legendaris

Di Summarecon Mall Kelapa Gading, Kampoeng Tempo Doeloe tahun ini mengangkat tema “Lokarasa Nusantara”. Festival nan telah menjadi salah satu agenda kuliner tahunan Jakarta itu menghadirkan lebih dari 140 tenant kuliner legendaris dengan ribuan menu otentik dari beragam daerah.

Pengalaman kuliner diperkuat melalui hiasan tematik, pagelaran budaya tradisional, hingga penampilan musik. Pengunjung tak hanya datang untuk mencicipi makanan, tetapi juga diajak masuk ke dalam suasana nan membawa cerita tentang wilayah asal maupun perjalanan sebuah kuliner.

KTD juga dipadukan dengan Wonderful Culinary Expo (WCE). Area ini menghadirkan produk kuliner internasional premium seperti artisan cheese, produk susu, meat shop, cokelat, hingga specialty coffee.

Perpaduan kuliner nusantara dan produk internasional tersebut memperlihatkan gimana pagelaran makanan berkembang menjadi ruang eksplorasi rasa nan lebih luas.

Serpong Ajak Pengunjung ‘Melintasi’ Sumatera

Pengalaman berbeda ditawarkan Festival Kuliner Serpong nan telah berjalan sejak 2011. Memasuki penyelenggaraan ke-14, FKS mempertahankan karakter khasnya dengan membawa visitor melakukan semacam perjalanan kuliner ke wilayah berbeda setiap tahunnya.

Pada jenis 2026, pagelaran mengangkat tema “Satu Jalur Seribu Rasa - Lintas Sumatera”.

Kuliner dari beragam wilayah di Sumatera dikumpulkan dalam satu area dengan hiasan nan dirancang menyerupai perjalanan lintas daerah. Dengan konsep tersebut, visitor tidak kudu beranjak kota untuk menemukan ragam makanan nan biasanya tersebar di beragam lokasi.

Pengalaman itu dilengkapi program Makan Satu Jalur Seribu Hadiah. Pengunjung dapat mengumpulkan stempel dari transaksi di booth FKS dan berkesempatan mendapatkan bingkisan berupa logam mulia.

Format seperti ini memperlihatkan pergeseran pagelaran kuliner dari sekadar aktivitas makan menjadi pengalaman nan menggabungkan eksplorasi, hiburan, dan hubungan pengunjung.

Dari Pasar Senggol Menjadi Hungry Playground

Perubahan paling terlihat tahun ini terjadi di Summarecon Mall Bekasi. Festival nan sebelumnya dikenal sebagai Pasar Senggol sekarang beralih bentuk menjadi Hungry Playground.

Pasar Senggol pertama kali datang pada 2014 dengan nuansa pasar malam. Memasuki jenis ke-11, konsep tersebut diperbarui menjadi pagelaran kuliner modern nan lebih kuat menggabungkan makanan dengan intermezo dan aktivitas komunitas.

Selain menghadirkan kuliner viral nusantara dan mancanegara, Hungry Playground menawarkan beragam aktivitas nan membikin visitor dapat menghabiskan waktu lebih lama di area festival.

Salah satu daya tariknya adalah Frosty Carnival dengan pengalaman taman salju airdomed. Di dalamnya terdapat Snow Playground, Jumbo Ice Slide hingga Ice Skating.

Agenda lain mencakup Showtomotive Series, Dance & Coloring Competition, Sunset Fun Run, Noraebang, dan Random Play Dance.

Konsep tersebut menempatkan makanan sebagai bagian dari sebuah pengalaman rekreasi nan lebih luas. Pengunjung dapat datang untuk berburu kuliner, bermain, mengikuti aktivitas komunitas, alias sekadar menikmati suasana berbareng family dan teman.

Bandung Angkat Nostalgia Kuliner Kota Kembang

Sementara itu, pagelaran termuda dalam rangkaian tersebut datang di Summarecon Mall Bandung.

Festival Kuliner Bandung baru pertama kali diselenggarakan pada 2024, tidak lama setelah mal tersebut resmi dibuka pada Januari tahun nan sama. Pada jenis pertamanya, FKB mengusung tema “Jelajah Kuliner Asia” dengan menghadirkan makanan dari Indonesia, Jepang, Korea, China, dan Thailand.

Memasuki penyelenggaraan ketiga pada 2026, arah pagelaran berubah lebih dekat dengan identitas lokal melalui tema “Bandung Tempo Doeloe”.

Berbagai makanan legendaris unik Bandung dikumpulkan dalam satu destinasi untuk menghadirkan kembali rasa nan berkawan bagi masyarakat sekaligus memperkenalkannya kepada generasi nan lebih muda.

Nuansa nostalgia tersebut bakal dipadukan dengan penampilan musik, pagelaran balon Wonosobo, hingga spectacular fireworks.

Kuliner Jadi Pengalaman dan Ruang Tumbuh UMKM

Perubahan format pagelaran di empat kota tersebut mencerminkan langkah masyarakat menikmati kuliner nan ikut berubah.

Datang ke pagelaran makanan sekarang bukan hanya soal mencari menu untuk disantap. Pengunjung juga mencari pengalaman, mulai dari mengenang makanan masa kecil, menemukan rasa baru, berburu kuliner nan sedang populer, hingga berjumpa dengan komunitas.

Di tengah perubahan tersebut, keberadaan mal sebagai ruang publik mempunyai peran tersendiri. Berkumpulnya beragam tenant dalam satu area membikin konsumen lebih mudah menemukan banyak pilihan makanan tanpa kudu mendatangi letak nan berbeda-beda.

Bagi pelaku UMKM, pagelaran juga membuka kesempatan untuk berhadapan langsung dengan pasar nan lebih luas. Produk nan sebelumnya mungkin hanya dikenal di suatu wilayah mendapat panggung untuk diperkenalkan kepada ribuan visitor dari beragam latar belakang.

Pada titik itu, pagelaran kuliner bukan lagi semata seremoni makanan. Ia menjadi ruang tempat nostalgia, hiburan, identitas lokal, dan keberlangsungan upaya bertemu.

Selama 22 tahun, perjalanan tersebut tumbuh dari Kelapa Gading ke Serpong, Bekasi, dan Bandung. Namun satu perihal tetap dipertahankan ialah menjadikan kekayaan rasa sebagai argumen bagi masyarakat untuk kembali berkumpul, sekaligus memberi ruang agar kuliner lokal terus hidup dan berkembang. (Z-10)

Selengkapnya