Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan artificial intelligence (AI) dan upaya info center mulai mengubah peta persaingan area industri di Indonesia. Lahan luas dan letak strategis nan selama ini menjadi daya tarik utama sekarang tak lagi cukup untuk memikat investor.
Investor memerlukan kepastian pasokan listrik, konektivitas internet berkapasitas tinggi, hingga kesiapan AI.
Berbeda dengan industri konvensional, industri berbasis digital memerlukan prasarana dengan tingkat keandalan nan lebih tinggi. Gangguan pasokan listrik alias konektivitas dapat berakibat langsung terhadap operasional bisnis.
Perubahan ini membikin pengelola area industri kudu mengubah langkah mereka menyiapkan kawasan. Infrastruktur tidak lagi sekadar menjadi akomodasi pendukung, melainkan bagian dari daya saing utama untuk merebut investasi baru.
"Bagi investor, nan utama adalah kepastian bahwa kebutuhan prasarana dapat terpenuhi sesuai kualitas dan agenda nan diminta," kata Direktur Utama PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) Leo Yulianto Sutedja dalam keterangannya, Jumat (28/6/26).
Pengembang dan pengelola area industri di Kabupaten Bekasi itu memandang kepastian prasarana menjadi salah satu pertimbangan krusial bagi penanammodal ketika memilih letak untuk menjalankan bisnis.
Kebutuhan tersebut mendorong area industri untuk mengintegrasikan sejumlah prasarana utama sejak awal. Power, water dan neutral fiber menjadi fondasi nan semakin krusial agar penanammodal tidak perlu membangun seluruh kebutuhan dasar infrastrukturnya dari nol.
Perubahan pola kebutuhan penanammodal ini juga membikin standar area industri ikut bergeser. Jika sebelumnya lokasi, akses logistik, lahan dan utilitas dasar menjadi aspek utama, sekarang aspek seperti kesiapan daya, konektivitas digital, keandalan, keahlian ekspansi dan kepastian pasokan ikut menjadi penentu.
Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi developer area industri. Pertumbuhan upaya digital dapat membikin kebutuhan prasarana meningkat secara sigap sehingga kapabilitas nan tersedia saat tenant pertama masuk belum tentu mencukupi ketika upaya tersebut melakukan ekspansi.
"Dalam industri berbasis AI dan info center, tantangannya bukan hanya berapa besar daya nan tersedia, tetapi gimana kapabilitas tersebut dapat disalurkan secara andal dan dikembangkan sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan tenant," kata Leo.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·