Astronom Spanyol Temukan Molekul Gula Alami di Luar Angkasa

1 bulan yang lalu 18
Astronom Spanyol Temukan Molekul Gula Alami di Luar Angkasa ilustrasi(Magnific)

TIM  astronom asal Spanyol sukses mendeteksi keberadaan molekul gula alami di awan gas dan debu antarbintang nan terletak di pusat Galaksi Bima Sakti.

Dalam laporan ilmiah nan dipublikasikan melalui jurnal Nature Astronomy, tim peneliti sukses mengungkap keberadaan senyawa erythrulose. Di Bumi, jenis gula sederhana dengan empat atom karbon ini umumnya ditemukan dalam buah raspberry serta kerap digunakan sebagai bahan baku produk penyamak kulit. Temuan ini menandai untuk pertama kalinya molekul gula sejati sukses dideteksi secara langsung di ruang antarbintang.

Penemuan tersebut dilakukan oleh tim dari Center for Astrobiology (CAB-CSIC-INTA), Spanyol, nan dipimpin Dr. Izaskun Jiménez-Serra. Menggunakan teleskop radio Yebes 40 meter dan IRAM 30 meter, mereka mengawasi awan molekul raksasa G+0.693-0.027 nan berada sekitar 26.700 tahun sinar dari Bumi, dekat pusat Bima Sakti.

Di wilayah nan sangat dingin, bersuhu sekitar minus 250 derajat Celsius, para peneliti menemukan sidik jari kimia erythrulose melalui spektrum gelombang radio.

Yang membikin temuan ini spesial bukan sekadar keberadaan gula di luar angkasa, melainkan gimana molekul tersebut diperkirakan terbentuk. Para peneliti menduga erythrulose lahir dari reaksi antara dua senyawa organik sederhana, glycolaldehyde dan ethylene glycol, di permukaan butiran debu antarbintang nan diselimuti es. Proses kimia itu berjalan secara alami apalagi sebelum bintang maupun planet terbentuk.

Meski erythrulose bukan bukti adanya kehidupan di luar Bumi, keberadaannya memperkuat pendapat bahwa bahan penyusun kehidupan dapat terbentuk secara alami di ruang antarbintang. Molekul gula seperti ini berpotensi berkedudukan dalam pembentukan RNA, materi genetik nan diyakini muncul lebih dulu sebelum DNA dalam sejarah perkembangan kehidupan.

Para intelektual menduga miliaran ton senyawa organik serupa mungkin pernah terbawa komet dan asteroid nan menghantam Bumi muda miliaran tahun lalu. Jika benar, hujan molekul organik tersebut bisa menjadi salah satu pemicu terbentuknya "sup purba" tempat biomolekul pertama mulai berkembang. Penemuan ini sekaligus memperkuat dugaan bahwa bahan baku kehidupan bukanlah sesuatu nan langka, melainkan tersebar luas di seluruh galaksi.

(Theguardian/P-4)

Selengkapnya