Ilustrasi(Dok Magnific)
UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Sumatra Barat memastikan telah memberikan pendampingan terhadap siswa sebut saja XX, terduga pelaku perakitan peledak rakitan nan merupakan siswa MAN 3 Padang. Pendampingan dilakukan untuk memastikan seluruh kewenangan anak tetap terpenuhi selama menjalani proses norma di Polresta Padang.
Kepala Bidang Perempuan dan Anak Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatra Barat nan juga Kepala UPTD PPA Sumbar, Ruri Juswira, mengatakan pihaknya mendampingi pemeriksaan sejak awal hingga larut malam guna memastikan proses melangkah sesuai ketentuan perlindungan anak.
"Alhamdulillah kami sudah melakukan pendampingan terhadap anak pelaku. Berdasarkan keterangan sementara dari nan bersangkutan, tindakan tersebut merupakan tindakan perorangan dengan motivasi mau membalas kawan nan selama ini diduga melakukan perundungan terhadap dirinya," ujar Ruri, Rabu (15/7).
Meski demikian, Ruri menegaskan bahwa keterangan tersebut tetap berkarakter awal. Dugaan adanya keterlibatan jaringan teror alias pihak lain dalam kasus tersebut tetap menjadi bagian dari pengembangan penyelidikan oleh abdi negara kepolisian.
"Kami belum dapat menyimpulkan ada alias tidaknya keterlibatan jaringan tertentu lantaran perihal itu tetap didalami oleh penyidik," katanya.
Selama proses pemeriksaan, lanjut Ruri, UPTD PPA memastikan tidak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak anak. Menurutnya, XX dapat memberikan keterangan secara kooperatif dan tidak berada dalam tekanan.
"Anak dapat bekerja sama dengan baik, memberikan keterangan dengan nyaman, dan tidak dalam kondisi tertekan selama pemeriksaan berlangsung," ujarnya.
Pendampingan dilakukan hingga sekitar pukul 00.00 WIB. Saat itu, XX tetap berada di Polresta Padang didampingi keluarga, pihak sekolah, serta para saksi. Setelah pemeriksaan sementara selesai, XX berbareng keluarganya ditempatkan di Rumah Perlindungan Sementara UPTD PPA Sumbar selama proses pemeriksaan lanjutan.
Dalam pendalaman nan dilakukan, ibu XX mengaku anaknya telah mengalami dugaan perundungan sejak tetap duduk di bangku sekolah dasar, kemudian bersambung saat menempuh pendidikan di MTs hingga MA. Informasi tersebut sekarang turut menjadi bahan pendalaman oleh interogator kepolisian berbareng UPTD PPA Sumbar.
Ruri menggambarkan XX sebagai anak nan mempunyai kepribadian pendiam dan condong tertutup. Dari hasil pendampingan sementara, tidak ditemukan kondisi bentuk maupun latar belakang sosial ekonomi nan menonjol.
"Anaknya pendiam, seperti anak introvert pada umumnya. Dari mini tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari keluarganya, baik secara bentuk maupun verbal. Cara bicaranya juga sopan dan lembut. Dari pengamatan kami, dia tampaknya sangat tidak nyaman andaikan diperlakukan alias diperlakukan dengan kata-kata nan kasar," jelasnya.
Meski demikian, Ruri mengingatkan bahwa seluruh info tersebut tetap merupakan hasil pendalaman awal. Polisi tetap terus mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap secara utuh motif, proses perakitan bahan peledak, asal-usul bahan nan digunakan, serta kemungkinan adanya pihak lain nan terlibat dalam perkara tersebut.
Kasus ini juga menjadi perhatian beragam pihak lantaran tidak hanya menyangkut aspek keamanan, tetapi juga perlindungan anak serta pentingnya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. Aparat mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil penyelidikan resmi dan tidak memperkirakan mengenai keterkaitan kasus ini dengan jaringan tertentu sebelum terdapat konklusi dari penyidik. (YH/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·