Kepala BMKG Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi. dalam rapat membahas akibat el nino di Jawa Barat.(Dok. MI)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat (Jabar) mengeluarkan peringatan awal bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi musibah pada puncak musim tandus 2026. Fenomena El Nino tahun ini diprediksi mencapai intensitas sangat kuat, dengan karakter nan menyerupai kondisi suasana pada tahun 1998.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa berasas pemantauan anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di wilayah Nino 3.4, intensitas El Nino kategori sangat kuat ini terdeteksi pada periode Juni-Agustus-September (JAS) 2026. Kondisi ekstrem ini diperkirakan bakal terus bersambung hingga periode September-Oktober-November (SON).
"El Nino sangat kuat ini sama seperti kejadian tahun 1998 dulu, nyaris sama. Tingkat puncaknya diperkirakan terjadi pada awal September dan Oktober," ujar Suaidi dalam keterangannya, Kamis (27/8).
Dinamika Atmosfer dan Potensi Hujan Lokal
Meski status El Nino berada pada level sangat kuat, Suaidi memberikan catatan bahwa kejadian ini tidak secara otomatis menyebabkan seluruh wilayah Indonesia mengalami kekeringan total tanpa henti. Dinamika atmosfer tetap memungkinkan adanya suplai uap air nan memicu pertumbuhan awan konvektif secara lokal di beberapa titik di Jawa Barat.
"El Nino itu bukan berfaedah panas sepanjang masa. Hujan tetap bisa terjadi, tergantung massa air nan dibawa dari selatan, Samudra Hindia, Indo-Australia, maupun dari utara. Itu juga tergantung musim angin baratan alias angin timuran," jelasnya.
Oleh lantaran itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memanfaatkan potensi hujan nan tetap turun dengan langkah menampung air sebagai persediaan saat memasuki periode nan lebih kering. Pemerintah wilayah juga diminta bersiaga memberikan support logistik bagi wilayah nan mulai terdampak kekeringan serta kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Mitigasi Kekeringan dan Karhutla
Sebagai langkah konkret, Suaidi menyoroti upaya penyaluran support air bersih nan sudah berjalan, salah satunya di Kabupaten Bogor. Hingga saat ini, pengedaran air bersih kepada penduduk dilaporkan telah mencapai sekitar 6 juta liter dan diprediksi bakal terus meningkat seiring berlanjutnya musim kemarau.
Selain masalah kesiapan air, BMKG menekankan pentingnya mencegah pemicu karhutla. Masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas pembakaran lahan alias sampah secara sembarangan, mengingat kondisi vegetasi nan kering sangat mudah tersulut api.
"Kami mengimbau agar masyarakat tidak membakar lahan dan sampah. Di beberapa wilayah kemarin terlihat jejak pembakaran lahan. Mohon perihal itu tidak dilakukan," tegas Suaidi.
Kendala Modifikasi Cuaca
Mengenai wacana penyelenggaraan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memicu hujan buatan, Suaidi mengungkapkan bahwa langkah tersebut belum bisa dieksekusi dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh minimnya kesiapan awan potensial di langit Jawa Barat.
"Potensi awannya tetap kurang dari 30 persen, sehingga belum memungkinkan dilakukan modifikasi cuaca. Kita tunggu awannya mengumpul, baru modifikasi cuaca bisa dilakukan," pungkasnya. (H-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·