Tim Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Sains Dwi Farma Bukittinggi.(Dok. MI)
PENGEMBANGAN produk herbal berbasis sumber daya lokal terus didorong melalui program pengabdian kepada masyarakat. Tim Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Sains Dwi Farma Bukittinggi menggelar aktivitas berjudul Penguatan Hilir Usaha Penyulingan Minyak Sereh melalui Inovasi Produk, Pengemasan, dan Pendampingan Legalitas pada KUPS Tolang Botuang di KUPS Tolang Botuang, Kanagarian Gurun, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.
Program tersebut terlaksana berkah support pendanaan Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek dalam skema Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) 2026.
Kegiatan tersebut difokuskan pada peningkatan nilai tambah minyak serai melalui pengembangan produk turunan, penguatan strategi pemasaran, serta pendampingan dalam pemenuhan aspek legalitas usaha.
Ketua tim pengabdian Trie Yuni Elfasyari mengatakan selama ini minyak serai lebih banyak dipasarkan dalam corak bahan baku. Padahal, komoditas tersebut mempunyai kesempatan besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk dengan nilai ekonomi nan lebih tinggi.
"Kami mau mendorong masyarakat agar tidak hanya menjual minyak atsiri mentah, tetapi juga bisa menghasilkan produk turunan nan mempunyai nilai tambah, daya saing, dan keberlanjutan upaya nan lebih baik," ujarnya seperti dikutip pada Kamis (16/7).
Dalam aktivitas tersebut, peserta mendapatkan training mengenai formulasi sekaligus praktik pembuatan sabun cair pencuci tangan berbahan dasar minyak serai wangi. Materi disampaikan oleh Ahdi Dinil Haq dan Neri Fadjria nan memberikan pendampingan mengenai penyusunan formulasi, aspek keamanan produk, hingga penerapan langkah pembuatan sediaan nan baik.
Selain pengembangan produk, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pengemasan dan pemasaran. Pendampingan nan dipandu Trie Yuni mencakup penyusunan kreasi bungkusan nan lebih menarik, pembuatan label sesuai ketentuan, serta strategi pemasaran agar produk mempunyai daya saing nan lebih kuat.
Legalitas produk turut menjadi salah satu konsentrasi dalam program ini. Pemberian edukasi sekaligus pendampingan mengenai proses pengurusan legalitas UMOT (Usaha Mikro Obat Tradisional) turut dilakukan sebagai upaya meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas kesempatan pemasaran.
Ketua KUPS Tolang Botuang, Febri Nugraha menilai aktivitas tersebut menjadi langkah krusial untuk mendukung pengembangan upaya penyulingan minyak serai wangi nan telah dijalankan masyarakat setempat.
"Kami berambisi aktivitas ini dapat membantu golongan kami menghasilkan produk turunan minyak serai nan lebih inovatif, mempunyai bungkusan menarik, serta memenuhi aspek legalitas sehingga bisa bersaing di pasar," ungkapnya.
Melalui kerjasama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan golongan upaya masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi contoh pemberdayaan berbasis potensi daerah. Hilirisasi minyak serai wangi pun diharapkan bisa meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, menggerakkan perekonomian masyarakat, serta memperkuat daya saing produk herbal Indonesia. (Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·