Ilustrasi AI.(Dok. Magnific)
PERKEMBANGAN pesat kecerdasan buatan (AI) memicu kekhawatiran bakal hilangnya peran manusia di beragam sektor. Namun, Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula, menegaskan bahwa ada dua keahlian dasar manusia nan tidak bakal pernah bisa digantikan oleh teknologi AI, seberapa canggih pun perkembangannya.
Menurut Moe, keahlian pertama nan menjadi kelebihan absolut manusia adalah empati dan hubungan interpersonal. Hal ini dia sampaikan dalam taklimat media Google Cloud di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
"Saya pikir ada keahlian manusia nan bakal bertahan, dan mereka telah melewati semua pergeseran teknologi di masa lalu. Kemampuan kita untuk mempunyai empati dan hubungan adalah perihal nan sangat manusiawi," ujar Moe.
Ia menjelaskan bahwa memahami emosi, merasakan kondisi orang lain, serta memberikan respons sosial nan tepat adalah aspek nan sangat kompleks bagi teknologi. Sebagai contoh, Moe menyoroti pekerjaan petugas kepolisian. Dalam menjalankan tugasnya, polisi seringkali kudu meredakan ketegangan dan memahami kondisi psikologis masyarakat untuk membantu mereka mengambil keputusan nan tepat.
"Keterampilan memahami gimana meredakan ketegangan, memahami kondisi, dan membantu seseorang memahami apa nan betul alias salah memerlukan penalaran dan emosi manusia," tambahnya.
Kemampuan Beradaptasi dan Inovasi
Selain empati, keahlian kedua nan tak tergantikan adalah kapabilitas manusia untuk terus beradaptasi dan menemukan langkah kerja baru. Moe menilai AI pada dasarnya bekerja secara reaktif berasas info dan petunjuk nan diberikan manusia.
Sebaliknya, manusia mempunyai hatikecil untuk menciptakan solusi baru di tengah perubahan zaman. Ia mencontohkan perkembangan transportasi manusia, dari penggunaan hewan hingga pembuatan kendaraan modern, serta pergeseran peran kalkulator dalam bumi pendidikan.
"Manusia tidak berakhir pada penggunaan teknologi baru tersebut, tetapi memanfaatkannya untuk menyelesaikan persoalan nan lebih kompleks," jelas Moe.
Di era AI ini, keahlian untuk memanfaatkan teknologi guna menciptakan sesuatu nan baru menjadi keahlian krusial. Moe optimistis bahwa pekerjaan nan mengandalkan penalaran mendalam dan emosi manusia bakal tetap relevan dan susah terdampak oleh otomatisasi AI.
Moe Abdula menekankan bahwa teknologi AI hanyalah alat, sementara produktivitas untuk menemukan langkah kerja baru dan kepekaan emosional tetap menjadi domain eksklusif umat manusia. (Ant/H-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·