Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai

1 bulan yang lalu 16

loading...

Dr Iskandar Purba, Pengajar Teknik Sipil Institut Teknologi PLN. Foto/Dok. SindoNews

Dr Iskandar Purba
Pengajar Teknik Sipil Institut Teknologi PLN

JALUR Medan-Berastagi bukan sekadar penghubung Kota Medan dan dataran tinggi Karo. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi, koridor pangan, akses wisata, jalur logistik, sekaligus pintu menuju wilayah tengah Sumatera Utara, termasuk Karo, Dairi, Simalungun, Toba, Samosir, Pakpak Bharat, hingga area nan terhubung dengan Aceh Tenggara dan Subulussalam.

Namun, peran strategis itu sekarang tidak lagi sebanding dengan kapabilitas jalan nan tersedia. Kendaraan pribadi, bus wisata, truk logistik, pikulan hasil pertanian, kendaraan niaga, dan mobilitas harian masyarakat bercampur dalam satu koridor nan terbatas.

Akibatnya, persoalan Medan-Berastagi tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kemacetan akhir pekan. Ini sudah menjadi masalah konektivitas regional, keselamatan publik, dan ketahanan ekonomi wilayah.

Ketika jalur ini macet, terganggu, alias tertutup, dampaknya tidak hanya dirasakan visitor nan hendak berpiknik ke Berastagi. Petani, pedagang, pelaku UMKM, pengusaha logistik, pekerja, pelajar, pasien nan memerlukan akses layanan, dan masyarakat luas ikut menanggung akibatnya. Jalan nan tersendat berfaedah ekonomi ikut tersendat.

Kemacetan di jalur Medan-Berastagi bukan perihal baru. Pada akhir pekan, musim liburan, hari besar, alias masa puncak kunjungan wisata, waktu tempuh sering kali tidak dapat diprediksi. Perjalanan nan semestinya dapat direncanakan berubah menjadi perjalanan panjang, melelahkan, dan tidak efisien. Bagi masyarakat dan pelaku usaha, ketidakpastian waktu tempuh adalah biaya ekonomi.

Setiap kendaraan nan tertahan berfaedah bahan bakar terbuang. Setiap jam perjalanan nan lenyap berfaedah produktivitas menurun. Setiap keterlambatan pengedaran hasil pertanian berfaedah akibat penurunan kualitas barang. Setiap keterlambatan logistik berfaedah biaya bertambah. Karena itu, kemacetan bukan hanya persoalan lampau lintas, melainkan persoalan daya saing wilayah.

Selengkapnya