loading...
Hanif Rahadian Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis Lembaga KERIS. Foto/istimewa
Hanif Rahadian
Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis Lembaga KERIS
“KITA berupaya untuk mengakuisisi kapal induk nan dulu dimiliki oleh Angkatan Laut Italia, ialah Garibaldi.”
Itulah penggalan pernyataan nan disampaikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (TNI AL), Laksamana TNI Muhammad Ali, saat ditemui dan diwawancarai wartawan seusai aktivitas serah terima KRI Brawijaya-320 di Dermaga 107 Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Senin, 8 September 2025.
Sejak sekitar periode Juli 2025, rumor pembelian kapal induk garibaldi oleh Indonesia mencuat dan terus menguat hingga saat ini, setidaknya pada bulan dan tahun nan sama, perwakilan dari galangan kapal italia Fincantieri melakukan presentasi di Jakarta mengenai rencana mengkonversi kapal garibaldi menjadi kapal induk helikopter dan UAV, menyesuaikan dengan kebutuhan dari TNI-AL.
ITS Giuseppe Garibaldi sendiri merupakan kapal induk ringan nan dirancang untuk mengoperasikan helikopter dan pesawat tempur dengan metode Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL). Kapal ini mempunyai panjang sekitar 180 meter dengan displacement sekitar 10.000 ton nan meningkat hingga 14.150 ton saat muatan penuh. Garibaldi bisa melaju hingga 30 knot berkah empat turbin gas General Electric LM2500 dengan total daya 81.000 shp, serta mempunyai jangkauan operasional sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan jelajah 20 knot.
Kapal ini dilengkapi dek penerbangan sepanjang 174 meter dengan ski-jump 6,5 derajat dan hanggar nan bisa menampung kombinasi pesawat maupun helikopter. Selain berfaedah sebagai kapal induk, Garibaldi juga dapat menjalankan peran sebagai kapal komando dengan kapabilitas sekitar 830 personel. Untuk pertahanan diri, kapal ini dipersenjatai dengan rudal pertahanan udara Aspide, torpedo ILAS, serta tiga sistem Close-In Weapon System (CIWS) DARDO.
Rencana pengadaan dan pengoperasian kapal induk oleh TNI AL bukanlah sebuah kebijakan modernisasi nan berdiri sendiri, melainkan langkah ini masuk dalam program modernisasi alutsista dan pembangunan kekuatan armada nan tengah dijalankan Indonesia. Meski ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas TNI AL, rencana mendatangkan kapal ITS Giuseppe Garibaldi, sebuah kapal induk jejak nan sebelumnya dioperasikan Angkatan Laut Italia, memunculkan diskursus di tengah masyarakat luas.
Utamanya mengenai relevansi, urgensi, dan nilai strategisnya bagi kebutuhan pertahanan Indonesia. Perdebatan tersebut tidak hanya menyoroti usia kapal nan relatif tua serta potensi biaya pemeliharaan dan modernisasi nan besar, tetapi juga mempertanyakan sejauh mana kehadiran kapal berbobot 10.000–15.000 ton tersebut selaras dengan kebutuhan operasional, prioritas strategis nasional, dan doktrin TNI AL saat ini.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·