Katanya Musuhan? Netanyahu Bakal "4 Mata" ke Trump di AS Hari Ini

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan berjumpa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2025) ini. Agenda pertemuan diperkirakan bakal berfokus pada perkembangan perang dengan Iran, bentrok Gaza, hingga beragam rumor keamanan di Timur Tengah.

Kantor Netanyahu mengonfirmasi bahwa pemimpin Israel itu bakal bertolak ke Washington pada Senin sebelum berjumpa Trump sehari kemudian. Selain menghadiri pertemuan di Gedung Putih, Netanyahu juga dijadwalkan menghadiri pemakaman mendiang Senator AS Lindsey Graham.

Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan kedua pemimpin bakal membahas "isu-isu krusial di era kita". Termasuk upaya memanfaatkan aliansi kedua negara untuk "memenangkan perang dan menciptakan perdamaian abadi," seperti dikutip Politico.

Trump turut mengonfirmasi kunjungan tersebut. Ia menegaskan dalam pidato di aktivitas Makan Malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih.

"Saya bakal mengirimkan busana Palestina nan bagus kepada Chuck Schumer agar dia bisa menyambut Bibi Netanyahu ketika datang ke kota minggu depan," ujar Trump, sembari kembali melontarkan sindiran kepada pemimpin Demokrat di Senat itu, seperti dikutip Reuters.

Pertemuan ini menjadi momen krusial lantaran Netanyahu disebut telah berupaya memperoleh undangan ke Gedung Putih selama berbulan-bulan. Disebutkan gimana hubungan keduanya memanas lantaran perang Iran bulan lalu, sebagaimana dimuat Axios.

"Awalnya tidak ada pertemuan. Mereka mengaturnya dalam beberapa hari terakhir," kata seorang sumber nan mengetahui proses diplomatik tersebut.

Menurut sumber itu, Netanyahu mau berkonsultasi langsung dengan Trump mengenai eskalasi bentrok dengan Iran, pembahasan kerja sama nuklir sipil AS-Arab Saudi, serta perkembangan situasi di Gaza nan tetap menjadi perhatian utama kedua negara. Meski hubungan AS dan Israel tetap erat, laporan menyebut hubungan pribadi Trump dan Netanyahu belakangan semakin tegang.

Diketahui, pemerintahan Trump meningkatkan tekanan militer terhadap Iran, tetapi pada saat nan sama tetap membuka kesempatan diplomasi. Di sisi lain, Israel disebut lebih memilih mempertahankan tekanan militer, sehingga memunculkan perbedaan pendekatan di antara kedua sekutu tersebut.

Pemerintahan Trump juga dikabarkan tengah menyiapkan beragam opsi jika bentrok dengan Iran kembali meningkat, termasuk memperkuat kehadiran militer AS di kawasan. Namun, Trump tetap menegaskan tujuan akhirnya adalah mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.

Analis menilai kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih tidak hanya bermaksud memperkuat koordinasi dengan sekutu utamanya, tetapi juga berpotensi diwarnai tekanan dari Washington agar Israel lebih sejalan dengan kebijakan AS di Gaza, Lebanon, dan area Timur Tengah.

"Bibi mengambil akibat dengan datang ke Gedung Putih. Ia mungkin bakal ditekan oleh Presiden Trump dengan sebuah permintaan, bukan sebaliknya," kata peneliti Council on Foreign Relations, Elisa Ewers, menggunakan nama panggilan Netanyahu.

Pertemuan Trump dan Netanyahu diperkirakan menjadi penentu arah koordinasi kedua negara di tengah perang nan belum mereda. Selain membahas strategi menghadapi Iran, kedua pemimpin juga diperkirakan bakal menyoroti bentrok Gaza, stabilitas kawasan, serta kesempatan membuka kembali jalur diplomasi di Timur Tengah.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya