Minimal Invasive Cardiac Surgery, Tindakan untuk Pemulihan yang lebih Efisien

1 jam yang lalu 3
Minimal Invasive Cardiac Surgery, Tindakan untuk Pemulihan nan lebih Efisien (DOK HEARTOLOGY)

KETIKA pembuluh darah jantung mengalami penyempitan alias penyumbatan, aliran darah dan oksigen nan dibutuhkan otot jantung dapat terganggu. Jika kondisi ini cukup berat, Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK)/Operasi Bypass Jantung alias Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) dapat menjadi salah satu pilihan penanganan.

CABG merupakan prosedur pembuatan jalur baru/pintas bagi aliran darah agar dapat melewati pembuluh darah koroner nan mengalami penyumbatan. Dengan adanya jalur tersebut, suplai darah dan oksigen ke otot jantung dapat kembali mengalir dengan lebih baik.

Namun, operasi bypass tidak selalu kudu dilakukan dengan metode konvensional. Prosedur ini dapat dilakukan dengan pendekatan Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) melalui sayatan nan lebih mini dan tanpa membelah tulang dada sehingga masa pengobatan relatif lebih cepat.

“Pada operasi konvensional, tulang dada (sternum) nan dibelah memerlukan waktu untuk menyatu dan proses penyembuhannya dapat berjalan hingga sekitar 12 minggu. Pada MICS, tulang dada (sternum) tetap utuh. Ini berfaedah pasien tidak perlu menjalani proses pengobatan tulang dada tersebut, sehingga pemulihan dapat menjadi lebih efisien. Selain itu, akibat komplikasi nan berangkaian dengan tulang dada, termasuk jangkitan tulang dada, juga dapat lebih rendah,” ujar dr Widya Trianita Suwatri, SpBTKV, Subsp. JD(K), master ahli bedah toraks, kardiak, dan vaskular Heartology Cardiovascular Hospital.

DAMPAK BAGI PASIEN
Sejumlah penelitian juga menunjukkan hasil nan menjanjikan. Studi nan membandingkan MICS CABG dengan CABG konvensional melalui pembelahan tulang dada (sternotomi) pada pasien dengan multivessel disease menunjukkan bahwa 95,5% pasien MICS CABG sukses mendapatkan complete revascularization, dibandingkan 96,3% pada operasi melalui sternotomi. 

Artinya, meskipun dilakukan melalui sayatan nan lebih kecil, pasien tetap mendapatkan revaskularisasi komplit pada seluruh sasaran pembuluh darah. Pada pemeriksaan pertimbangan angiografi pasca operasi nan dilakukan sebelum pasien pulang, 96,2% graft pada golongan MICS CABG dikatakan baik.

“Kalau dijelaskan secara sederhana, nomor tersebut menunjukkan bahwa sayatan nan lebih mini tidak berfaedah bypass nan dilakukan menjadi lebih sedikit alias kurang optimal. Tujuan utama operasi tetap tercapai, ialah membikin jalur baru agar darah dapat melewati pembuluh darah koroner nan tersumbat dan kembali menyuplai otot jantung. Complete revascularization pada MICS CABG mencapai 95,5%, nyaris sebanding dengan 96,3% pada operasi konvensional. Jadi, nan kita minimalkan adalah sayatan operasinya, bukan sasaran pembuluh darahnya,” jelas Dr dr Dudy Arman Hanafy, SpBTKV, SubspJD(K), MARS.

Penelitian lain pada pasien penyakit jantung koroner dengan glukosuria mellitus jenis II juga menunjukkan bahwa pasien nan menjalani MICS CABG mempunyai akibat perdarahan intra operasi nan lebih rendah, dengan median 600 mL dibandingkan 700 mL pada CABG konvensional. 

Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan minimal invasif tidak berakhir pada ukuran luka -Tetapi berpotensi mengurangi kebutuhan transfusi darah dan mendukung proses pemulihan pasien setelah operasi.

“Bagi pasien, nomor tersebut menunjukkan bahwa kita tetap berupaya mencapai hasil operasi bypass nan optimal dengan trauma operasi nan lebih minimal. Ketika perdarahan selama operasi dapat ditekan dan tulang dada (sternum) tidak perlu dibelah, proses pemulihan pasien berpotensi menjadi lebih efisien. Karena itu, keberhasilan operasi bukan hanya tentang memastikan bypass melangkah dengan baik, tetapi juga membantu pasien agar dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih sigap dan nyaman,” tambah Dr dr Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), MARS. (H-1)

Selengkapnya