Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, mengungkapkan argumen di kembali program modernisasi armada perikanan nasional nan tengah digenjot pemerintah. Menurutnya, kebanyakan kapal nelayan Indonesia hingga sekarang tetap menggunakan kapal kayu sehingga dinilai belum bisa memenuhi standar penangkapan ikan modern, baik dari sisi higienitas, keamanan, maupun keberlanjutan.
Karena itu, pemerintah menargetkan pembangunan 1.582 kapal perikanan modern hingga 2028, termasuk 1.000 kapal berukuran 30 gross ton (GT), untuk menggantikan armada tradisional nan selama ini digunakan nelayan. Program modernisasi armada tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing sektor perikanan nasional.
"Jadi kapal perikanan kita ini kan hampir.. jika saya sebutkan 90% terlalu ekstrem ya, mungkin sekitar 70% lah gitu, itu kan tetap menggunakan kapal kayu. Jadi jika kapal kayu itu kan soal higienis, soal keamanan, lampau kemudian soal model tangkapannya dan sebagainya, itu kan jika orang luar nganggapnya tetap langkah penangkapannya nan barbar. Jadi tetap belum modern gitu," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Menurut Trenggono, modernisasi armada bukan sekadar mengganti material kapal, tetapi juga mengubah langkah nelayan menangkap ikan agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Kapal-kapal baru nantinya bakal dilengkapi beragam teknologi pendukung seperti fish finder, freezer, hingga akomodasi penyimpanan hasil tangkapan.
"Nah, kita dengan melakukan modernisasi ini angan sebetulnya, di situ ada akomodasi fish finder-nya, kemudian ada freezer-nya dan seterusnya processing. Kalau nan 30 GT seperti itu. Nah, angan sebetulnya kelak penangkapannya juga penangkapan nan ramah lingkungan. Jadi tidak semua asal diambil gitu ya," jelasnya.
Ia menilai penggunaan teknologi tersebut bakal membantu nelayan menangkap ikan secara lebih terarah tanpa merusak ekosistem laut.
"Kalau orang asing itu kan mengatakan Indonesia tetap barbar nih nangkapnya, kan semua bisa kena nih, bisa kena terumbu karang dan seterusnya. Walaupun kita sudah menggunakan aturan-aturan baru ya, tapi dipraktekkan di lapangan kan tetap susah gitu. Nah, ini nan kita hindari," ucap dia.
Selain menjaga kelestarian sumber daya ikan, kapal modern juga diharapkan meningkatkan kualitas hasil tangkapan, lantaran dilengkapi akomodasi penyimpanan nan lebih baik.
"Dengan demikian tangkapannya juga lebih terjaga dengan baik, kapalnya lebih bersih dan seterusnya, lebih higienis, lampau kemudian kru-nya juga lebih bagus dan seterusnya, terdidik begitu. Itu harapannya," ucap Trenggono.
Pemerintah juga menyiapkan perubahan pola operasi nelayan. Selama ini sebagian besar nelayan menggunakan kapal di bawah 5 GT sehingga hanya bisa melaut selama satu hingga dua hari. Kehadiran kapal 30 GT diharapkan memungkinkan nelayan beraksi lebih jauh dan secara berkelompok.
"Kapal 30 GT itu (akan dibangun untuk) ada 1.000 titik. 1.000 titik ini kelak angan sebetulnya itu bisa ditempatkan di 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih. Kalau tadinya mereka selama ini menggunakan kapal-kapal nan di bawah 5 GT, kapal-kapal mini begitu ya. Nah, sehingga dia hanya one day fishing, two days fishing maksimum gitu. Nanti dengan kapal ini dia bakal bergeser dan berkelompok," jelas dia.
Menurutnya, satu kapal 30 GT nantinya dapat dioperasikan sekitar 15 orang sehingga kapabilitas penangkapan ikan meningkat dibanding kapal-kapal mini nan selama ini hanya diawaki dua hingga tiga nelayan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. (CNBC Indonesia TV) Foto: (CNBC Indonesia TV)
"Karena jika 30 Gross Ton itu kurang lebih sekitar 15 orang, nan mereka tadinya hanya tiga orang gitu ya, sekarang dia berkelompok, 15 (orang), dan jumlah tangkapannya tentu bakal jauh lebih besar," ucapnya.
Dengan armada baru tersebut, jangkauan penangkapan ikan juga bakal semakin luas. "Dan cakupannya bisa di atas 12 mil, kira-kira begitu," lanjut Trenggono.
Untuk merealisasikan program tersebut, KKP menggandeng Kementerian Pertahanan, khususnya Badan Logistik Pertahanan, dalam proses pembangunan kapal. Saat ini pemerintah tengah menyelesaikan tahap persiapan dengan sasaran awal 50 unit kapal modern selesai dibangun pada akhir tahun ini.
"Kenapa? Karena Kementerian Pertahanan khususnya Badan Logistik ini kan mempunyai pengalaman pembangunan kapal modern ya seperti kayak kapal perang. Tapi kan untuk kapal-kapal ini juga banyak dilakukan. Nah itu agar terkoordinir dengan baik, kita sudah berikan spek," terang dia.
"Harapan kami sebetulnya di tahun ini, mudah-mudahan ya di akhir tahun ini, 50 unit sudah bisa jadi dulu. Nah, lampau jika itu sudah bisa terjadi, 2027-2028 selesai semua gitu," katanya.
Tak hanya membangun kapal, pemerintah juga menyiapkan sumber daya manusia untuk mengoperasikan armada modern tersebut. Nelayan bakal mendapat pelatihan, sementara lulusan politeknik kelautan dan perikanan bakal dilibatkan untuk mendukung operasional di Kampung Nelayan Merah Putih.
"Karena ini kan sifatnya modern ya. Nanti kemudian Kampung Nelayan kan diawaki oleh manajer-manajer ahli dulu nih. Nah setelah itu kan sekaligus kemudian ada pendidikan kepada mereka. Jadi kelak kita latih, si awaknya ini kita latih. Kalau mereka selama ini dengan tradisional kita latih ke nan lebih modern lagi. Nah, itu nan kita persiapkan," pungkas Trenggono.
(wur)
Addsource on Google

1 bulan yang lalu
20







English (US) ·
Indonesian (ID) ·