Penelitian Ungkap Produk Tembakau Alternatif Tingkatkan Peluang Tinggalkan Rokok

1 bulan yang lalu 17
Penelitian Ungkap Produk Tembakau Alternatif Tingkatkan Peluang Tinggalkan Rokok ilustrasi(Antara)

Produk tembakau pengganti berpotensi meningkatkan kesempatan perokok dewasa untuk beranjak dari kebiasaan merokok sekaligus mengurangi paparan unsur rawan nan dihasilkan dari pembakaran tembakau. Temuan tersebut terungkap dalam uji klinis terbaru nan dilakukan Pennsylvania State College of Medicine.

Penelitian itu mengkaji penggunaan sejumlah produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau nan dipanaskan, dan kantung nikotin. Hasilnya menunjukkan produk-produk tersebut dapat menjadi salah satu pendekatan pengurangan ancaman bagi perokok dewasa nan belum sukses berakhir melalui metode lain.

Associate Professor Department of Public Health Sciences Penn State College of Medicine, Jessica M. Yingst, mengatakan temuan tersebut memberikan perspektif krusial dalam upaya membantu perokok dewasa mengurangi akibat kesehatan akibat kebiasaan merokok.

"Bagi perokok nan belum sukses berakhir merokok melalui pendekatan nan direkomendasikan, penelitian ini menunjukkan bahwa beranjak ke produk tembakau pengganti dikaitkan dengan pengurangan nyata paparan unsur berbisa rawan sekaligus mendukung transisi dari kebiasaan merokok. Ini merupakan temuan nan berarti bagi kesehatan masyarakat," ujar Yingst, dikutip Rabu (15/7).

Studi berjudul Toxicant Exposures After Switching From Cigarettes to a Pod-Based Electronic Cigarette yang dipublikasikan pada Mei 2026 menunjukkan peserta nan menggunakan produk tembakau pengganti dalam jangka pendek mempunyai kemungkinan sekitar tiga kali lebih besar untuk beranjak dari rokok dibandingkan mereka nan menggunakan produk tanpa nikotin.

Peneliti juga menemukan adanya penurunan sejumlah biomarker paparan unsur rawan pada golongan pengguna produk tembakau alternatif. Temuan ini kembali menyoroti peran proses pembakaran tembakau sebagai sumber utama beragam unsur rawan nan mengenai dengan kebiasaan merokok.

Menurut Yingst, nikotin memang mempunyai sifat adiktif, tetapi bukan aspek utama penyebab penyakit nan selama ini dikaitkan dengan aktivitas merokok. Risiko tersebut terutama berasal dari senyawa rawan nan terbentuk saat tembakau mengalami proses pembakaran.

"Penghantaran nikotin nan memadai menjadi aspek kunci dalam proses peralihan. Produk tembakau pengganti menyediakan nikotin bagi konsumen sekaligus mengurangi paparan terhadap beragam unsur kimia rawan secara signifikan," jelasnya.

Edukasi Dinilai Tetap Penting

Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, menilai hasil penelitian tersebut semakin memperkuat bukti mengenai potensi produk tembakau pengganti dalam membantu perokok dewasa mengurangi paparan unsur rawan saat beranjak dari rokok.

Menurut Paido, peserta penelitian tetap mendapatkan nikotin, namun dengan tingkat paparan unsur rawan nan lebih rendah. Ia menilai perihal tersebut memperkuat pemahaman bahwa proses pembakaran tembakau menjadi salah satu sumber utama unsur berbahaya.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa peserta tetap memperoleh nikotin, namun dengan paparan unsur rawan nan menurun. Temuan ini semakin memperkuat pemahaman bahwa sebagian besar unsur rawan berasal dari proses pembakaran tembakau, sehingga dengan menghilangkan proses pembakaran, paparan terhadap sejumlah unsur rawan dapat dikurangi," kata Paido.

Meski demikian, Paido mengingatkan produk tembakau pengganti bukanlah produk tanpa risiko. Produk tersebut ditujukan bagi perokok dewasa nan mau beranjak dari kebiasaan merokok, sehingga edukasi publik dan pengawasan pengedaran tetap perlu diperkuat.

"Edukasi tentang produk tembakau pengganti perlu dilakukan secara berkala agar semakin banyak nan mengerti bahwa produk ini bukan untuk nan di bawah umur, wanita hamil, maupun non-perokok. Bagi perokok dewasa nan belum bisa beranjak dari kebiasaan merokok, penggunaan produk tembakau pengganti nan tidak dibakar dapat menjadi pendekatan pengurangan ancaman nan lebih logis dibandingkan terus merokok," pungkas Paido. (E-3)

Selengkapnya