Ilustrasi(AFP)
DI kembali gegap gempita Piala Dunia 2026, Pengadilan regional Frankfurt, Jerman, secara resmi menjatuhkan putusan sela nan menuntut FIFA menghentikan praktik "proses manipulatif" dalam sistem penjualan tiket mereka.
Langkah norma ini dipicu oleh gugatan Ticombo, situs jual-beli tiket asal Jerman, nan mengungkap masalah transparansi FIFA. Selama ini, FIFA dianggap tidak memberikan info nan jelas mengenai identitas penjual tiket komersial di pasar sekunder, sehingga merugikan konsumen.
Praktik pasar sekunder FIFA memang menggiurkan. Dengan melegalkan penjualan tiket kembali demi untung di Amerika Serikat, FIFA meraup untung tiga kali lipat melalui komisi 15% dari setiap transaksi. Namun, dibalik untung dahsyat itu, muncul keluhan masif dari suporter mengenai nilai selangit hingga penipuan letak kursi.
Bukan hanya di Jerman, otoritas norma New York dan New Jersey pun tengah menginvestigasi penjualan tiket di Stadion MetLife. Fans merasa dimanipulasi dengan sistem nan tidak transparan.
Ticombo mengungkap daftar "dosa" kreasi platform FIFA, mulai dari nilai nan melonjak saat checkout , rentang waktu pembelian nan menekan, hingga fitur otomatis nan memaksa pembeli memilih bangku termahal.
Meski keputusan pengadilan Jerman ini mungkin tidak bakal mengubah nasib Piala Dunia saat ini secara instan, Ticombo menegaskan bahwa ini adalah langkah awal untuk menuntut keadilan. “Transparansi dan kewenangan konsumen kudu menjadi standar utama, apalagi dalam arena olahraga terbesar sekalipun,” tegas perwakilan Ticombo.
Hingga buletin ini diturunkan, FIFA belum memberikan komentar resmi mengenai tuduhan nan mencoreng wajah organisasi tersebut di tengah gelaran turnamen.
(Theguardian/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·