Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian menegaskan ekspansi perdagangan internasional dan peningkatan daya saing industri menjadi langkah untuk mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Di tengah memanasnya geopolitik, pemerintah menilai industri dalam negeri kudu bisa bersaing bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga kualitas dan efisiensi produksi.
Ajang Innoprom 2026 di Rusia menjadi salah satu instrumen nan dimanfaatkan pemerintah untuk membuka pasar baru sekaligus memperkuat posisi manufaktur Indonesia di area Eurasia. Langkah tersebut dinilai krusial lantaran banyak negara sekarang berkompetisi mencari pasar alternatif.
"Kata kunci pencapaian pertumbuhan ekonomi 8% bagi kami adalah ekspansi perdagangan dan investasi. Innoprom menjadi salah satu upaya untuk melakukan penetrasi sebesar-besarnya ke pasar Eurasia nan mempunyai daya beli tinggi," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Economic Update, Jumat (26/6/2026).
Tantangan industri nasional saat ini tidak hanya berasal dari perlambatan ekonomi global, tetapi juga semakin ketatnya perang jual beli antarnegara. Alhasil setiap negara berkompetisi memperkuat industri domestik. Pemerintah pun mendorong pelaku industri meningkatkan kualitas produk agar bisa memenangkan persaingan di pasar internasional.
"Yang kita hadapi sekarang adalah perang dagang. Bukan hanya Indonesia nan melirik pasar Eurasia, negara-negara lain juga melakukan perihal nan sama. Karena itu produk Indonesia kudu mempunyai daya saing nan tinggi," katanya.
Selain memperkuat kualitas produk, pemerintah juga menilai insentif industri mempunyai peran besar dalam menjaga daya saing. Agus mencontohkan kebijakan nilai gas bumi tertentu (HGBT) nan sempat meningkatkan daya saing industri keramik nasional hingga mendorong munculnya investasi baru.
"Insentif memang penting, tetapi kepastian hukum, kemudahan berusaha, kesiapan sumber daya manusia, dan kebijakan nan konsisten juga menjadi aspek utama bagi bumi usaha," ujarnya.
Agus juga menyoroti pentingnya penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai instrumen perlindungan industri dalam negeri. Banyak negara memanfaatkan sistem standardisasi bukan hanya untuk menjamin kualitas produk, tetapi juga sebagai sistem pengendalian peralatan impor agar industri domestik tetap terlindungi.
"Saya memandang banyak negara pesaing menggunakan standar bukan hanya untuk menjamin keselamatan, kesehatan, dan keamanan produk, tetapi juga menjadi instrumen untuk mengatur masuknya peralatan impor ke negara mereka," sebut Agus.
(fys/wur)
Addsource on Google

4 minggu yang lalu
13







English (US) ·
Indonesian (ID) ·