Survei Terbaru Warga AS: Trump bak "Macan Ompong", Diragukan Sana-sini

1 bulan yang lalu 16

Jakarta, CNBC Indonesia - Dukungan publik Amerika Serikat terhadap perang nan dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap Iran terus merosot. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan hanya satu dari empat penduduk AS nan menilai bentrok tersebut sepadan dengan biaya nan telah dikeluarkan, sementara kebanyakan responden meragukan bahwa gencatan senjata dan kesepakatan dengan Teheran bakal bisa memperkuat dalam jangka panjang.

Survei nan berjalan selama lima hari dan berhujung pada Senin (22/6/2026) itu juga memperlihatkan akibat politik nan signifikan bagi Trump. Tingkat persetujuan publik terhadap keahlian presiden turun menjadi 34%, menyamai titik terendah masa kedudukan keduanya nan sebelumnya tercatat dalam survei Reuters/Ipsos pada April lalu.

Temuan tersebut muncul ketika pemerintahan Trump berupaya mempertahankan support terhadap kesepakatan awal nan ditandatangani dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu. Kesepakatan tersebut bermaksud membuka kembali jalur pengiriman minyak dan gas nan sempat terhenti akibat perang serta melonggarkan sebagian tekanan ekonomi nan dipimpin AS terhadap Iran.

Meski perjanjian itu membantu menekan nilai minyak mentah bumi secara cepat, banyak penduduk Amerika tetap belum merasakan faedah langsungnya. Harga bahan bakar di AS tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan campuran AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari nan menjadi awal pecahnya perang.

Hasil survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 24% penduduk AS nan menganggap perang melawan Iran sebanding dengan biaya nan telah dikeluarkan. Sebaliknya, sekitar separuh responden menyatakan bentrok tersebut tidak layak dilakukan, sementara sisanya mengaku tidak yakin.

Pandangan publik juga menunjukkan skeptisisme besar terhadap hasil nan dicapai perang tersebut.

Hanya 23% penduduk AS nan percaya bahwa posisi negaranya terhadap Iran sekarang lebih kuat dibandingkan sebelum perang berlangsung. Angka itu apalagi mencakup hanya sekitar separuh dari pemilih Partai Republik sendiri.

Sebaliknya, 35% responden menilai posisi AS justru menjadi lebih lemah setelah perang. Sisanya menyatakan tidak percaya alias menilai posisi Washington pada dasarnya tidak berubah dibandingkan sebelumnya.

Keraguan publik tidak hanya ditujukan pada perang, tetapi juga terhadap prospek perdamaian nan sedang dinegosiasikan. Sebanyak 63% penduduk AS menyatakan tidak percaya bahwa kesepakatan nan ditandatangani Trump bakal menghasilkan perdamaian nan langgeng antara Washington dan Teheran.

Sikap skeptis itu muncul lintas partai politik. Sekitar separuh responden Partai Republik dan delapan dari sepuluh responden Partai Demokrat menyatakan perjanjian tersebut kemungkinan tidak bakal bisa menghadirkan perdamaian permanen.

Sebaliknya, hanya 18% penduduk AS nan menilai perdamaian jangka panjang mungkin tercapai. Kelompok ini terdiri dari sekitar 10% pemilih Demokrat dan 34% pemilih Republik.

Perang Iran juga menjadi ujian besar terhadap gambaran politik Trump. Dalam kampanye pemilihan presiden 2024, Trump memenangkan pemilu dengan janji untuk menurunkan inflasi serta menjauhkan Amerika Serikat dari perang-perang luar negeri nan mahal.

Selama bertahun-tahun, merek politik Trump dibangun di atas reputasinya sebagai pengusaha properti dan tokoh televisi nan piawai membikin kesepakatan. Namun hasil survei terbaru menunjukkan banyak pemilih mulai mempertanyakan efektivitas kepemimpinannya, terutama mengenai biaya hidup.

Tingkat persetujuan terhadap penanganan biaya hidup oleh Trump hanya mencapai 22%, mendekati titik terendah sepanjang masa kepresidenannya. Angka tersebut apalagi berada di bawah tingkat persetujuan nan diterima pendahulunya dari Partai Demokrat, Joe Biden, pada akhir masa jabatannya.

Adapun ketika memulai masa kedudukan keduanya, Trump mempunyai tingkat persetujuan publik sebesar 47%.

Penurunan ketenaran Trump berpotensi menjadi ancaman bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada 3 November mendatang. Pemilu tersebut bakal menentukan apakah Partai Republik tetap bisa mempertahankan kendali atas Kongres AS.

Survei menunjukkan hanya 17% pemilih independen nan terdaftar menyatakan bakal memilih kandidat Partai Republik di distrik mereka jika pemilu digelar hari ini. Sebaliknya, 34% mengatakan mereka bakal memilih kandidat dari Partai Demokrat.

Selain perang Iran, rumor imigrasi juga menjadi beban politik nan semakin besar bagi Trump. Survei menunjukkan hanya 37% penduduk AS nan menyetujui langkah Trump menangani persoalan imigrasi.

Angka tersebut menjadi nan terendah sepanjang masa kedudukan keduanya dan turun dari 40% dalam survei Reuters/Ipsos sebelumnya.

Survei Reuters/Ipsos ini melibatkan 1.262 orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat mempunyai margin kesalahan sekitar tiga poin persentase.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya