Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuka kesempatan seluas-luasnya bagi penanammodal untuk masuk ke proyek pengembangan industri garam nasional. Salah satu golongan upaya nan mulai menjajaki investasi di sektor tersebut adalah Salim Group, seiring upaya pemerintah mengejar sasaran swasembada garam pada 2027.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, kebutuhan garam industri di dalam negeri sangat besar sehingga membuka kesempatan investasi nan menjanjikan. Menurutnya, sejumlah pelaku upaya mulai menunjukkan minat untuk membangun produksi garam sendiri.
"Seperti Salim Group misalnya, lantaran beliau kan di Indofood ya. Indofood kan memerlukan garam cukup besar. Kebutuhannya nyaris satu juta ton lah itu setiap tahunnya. Itu juga sedang mulai menggarap untuk membikin garam sendiri. Terus farmasi. Ada beberapa perusahaan farmasi juga itu nan siap untuk melakukan itu," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Selain mendorong investasi swasta, pemerintah juga membujuk kepala wilayah serta penanammodal lainnya untuk mengembangkan sentra-sentra produksi garam baru, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur nan dinilai mempunyai potensi besar.
"Ya seperti di wilayah Nusa Tenggara Timur kan potensinya sangat besar. Jadi kita juga undang beberapa penanammodal untuk mereka juga mulai bergerak," ujarnya.
Trenggono menuturkan, pemerintah juga terus memperbaiki sentra produksi garam milik masyarakat, termasuk di Sabu Raijua, NTT, nan dinilai mempunyai kualitas garam cukup baik.
"Kita koreksi juga masyarakat. Seperti kayak di wilayah Sabu Raijua misalnya, itu kita koreksi juga, kita benerin lantaran hasil garamnya di sana cukup bagus," ucap dia.
Tak hanya mengandalkan tambak garam, pemerintah juga memandang potensi baru dari limbah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) nan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi garam.
"Terus kemudian satu lagi juga, PLTU tuh menghasilkan garam. PLTU-PLTU itu menghasilkan garam dan cukup bagus di situ. Nah banyak PLTU juga, nan kemudian kita minta untuk PT Garam menggandeng PLTU itu untuk kemudian kita mengambil... itu kan waste-nya dia. Dan itu jumlahnya cukup besar," jelas Trenggono.
Meski membuka pintu bagi investor, Trenggono menegaskan pemerintah tidak memberikan perlakuan unik kepada perusahaan tertentu. Menurut dia, peran utama justru bakal dijalankan oleh PT Garam sebagai badan upaya milik negara (BUMN) nan diharapkan menjadi motor pengembangan industri garam nasional.
"Oh nggak, kita open semua lah. Tidak ada karpet merah unik buat siapa... nggak ada," katanya.
"Tapi karpet merah dalam perihal ini adalah kita sorong kepada PT Garam sebagai BUMN tentu kudu gini ya, jadi jika pemerintah mestinya seperti BUMN tuh kudu menjadi leading sektor lah," lanjut dia.
Menurutnya, jika BUMN bisa diberikan ruang dan kesempatan, kemudian manajemen perseroan dilakukan perbaikan, semestinya BUMN bisa menjadi leading sektor di beberapa aktivitas ekonomi.
(dce)
Addsource on Google

1 bulan yang lalu
11







English (US) ·
Indonesian (ID) ·