Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Anadolu Agency/Dilara İrem Sancar)
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai menyiapkan beragam opsi strategis untuk menghadapi Kuba. Langkah ini muncul di tengah eskalasi operasi militer Washington terhadap Iran nan kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan laporan CBS News nan mengutip sejumlah sumber internal, perencana militer Amerika Serikat saat ini tengah mengkaji beragam skenario nan dapat diterapkan terhadap Havana. Salah satu opsi nan dipelajari mencakup operasi militer berupa serangan udara berskala besar nan melibatkan ribuan personel.
Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Divisi Lintas Udara ke-101 menjadi salah satu satuan elit nan dipertimbangkan untuk menjalankan misi tersebut. Satuan ini dipilih lantaran mempunyai keahlian unik dalam operasi serangan udara sigap dan mobilisasi personel dalam jumlah besar.
Meski demikian, para pejabat Amerika Serikat menegaskan bahwa pembahasan tersebut tetap berada pada tahap perencanaan awal. Hingga saat ini, baik pemerintahan Trump maupun Pentagon belum mengambil keputusan final untuk melancarkan operasi militer secara langsung terhadap Kuba.
Kendala Operasional di Tengah Konflik Iran
Pelaksanaan operasi militer terhadap Kuba diprediksi bakal menghadapi hambatan teknis nan signifikan. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi kekuatan militer Amerika Serikat nan saat ini tetap terfokus pada operasi di Iran.
Sejumlah sumber menyebut bahwa aset-aset vital seperti pesawat tempur, perangkat intelijen, dan beragam keahlian tempur lainnya tetap dikerahkan secara masif ke area Timur Tengah. Kondisi ini membikin kesempatan penyelenggaraan operasi militer terhadap Kuba dalam waktu dekat dinilai relatif kecil.
Situasi di Timur Tengah sendiri kembali memanas setelah Amerika Serikat meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran. Padahal, sebelumnya kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai langkah deeskalasi konflik.
Di sisi lain, Washington tetap mengedepankan pendekatan diplomatik dan tekanan ekonomi. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilaporkan terus mendorong terbentuknya pemerintahan teknokrat di Kuba nan bersedia menjalankan reformasi ekonomi secara menyeluruh.
Namun, upaya tersebut sejauh ini belum membuahkan hasil. Amerika Serikat pun merespons dengan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap militer Kuba serta sejumlah perusahaan nan berafiliasi dengan rezim tersebut.
Dalam pernyataannya pekan lalu, Rubio mengkritik keras sikap pemerintah Kuba nan dianggap enggan melakukan perubahan. "Elit korup Kuba terus menolak reformasi. Mereka malah melanggengkan kendali total mereka serta berpegang teguh pada ideologi Marxis nan ambruk secara moral," tegas Rubio.
Rekam Jejak Kebijakan Luar Negeri Trump
Sejak kembali menjabat sebagai Presiden AS untuk periode kedua, Donald Trump konsisten menunjukkan sikap keras terhadap negara-negara nan dianggap berseberangan dengan kepentingan Washington. Trump apalagi sempat mengungkapkan bahwa intervensi terhadap Kuba merupakan salah satu opsi nan pernah dipertimbangkan secara serius.
Kebijakan luar negeri AS dalam beberapa bulan terakhir memang diwarnai oleh serangkaian operasi militer di beragam kawasan:
- Awal Tahun: Washington melancarkan operasi militer ke Venezuela dengan sasaran penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
- Februari: Amerika Serikat berbareng Israel melakukan serangan terhadap Iran nan memicu bentrok berskala luas di Timur Tengah.
Hingga buletin ini diturunkan, Gedung Putih dan Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai perintah operasi ke Kuba. Seluruh skenario nan beredar ditegaskan tetap sebatas bagian dari proses perencanaan militer rutin untuk menghadapi beragam kemungkinan geopolitik. (Anadolu/Fer/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·