Jakarta, CNBC Indonesia - Kapal-kapal dilaporkan telah mulai berlayar melalui Selat Hormuz. Mereka bisa melewati laut sempit itu di bawah skema baru oleh badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Lembaga PBB, Organisasi Maritim Internasional (IMO), mengatakan mereka mengevakuasi kapal-kapal nan terjebak di sana akibat konflik. Ini bakal memungkinkan ratusan kapal dengan sekitar 11.000 pelaut nan terdampar di Teluk untuk berlayar melalui Hormuz.
"Kapal-kapal telah mulai melewati rencana tersebut," kata seorang ahli bicara IMO dikutip Kamis (25/6/2026).
Sayangnya, dia menolak untuk memberikan rincian kapal-kapal nan telah menyeberang. Meski demikian, dari info pencarian kapal LSEG dan Marine Traffic merujuk analisa Reuters, ada 35 kapal kecil, terutama kargo curah kering dan kontainer serta lima kapal tanker minyak dan kapal tunda, sedang bersiap untuk berlayar.
"Kapal kudu menunggu petunjuk sebelum melanjutkan," tulis catatan IMO, nan dikeluarkan Rabu.
"Memadati area tunggu hanya bakal mengakibatkan perlunya menunda pemberitahuan lebih lanjut demi keselamatan navigasi," tambahnya.
Rute Selat Hormuz
Sebenarnya ada dua rute kapal nan mungkin digunakan sementara untuk berlayar keluar. Rute utara melalui perairan Iran dan rute selatan melalui perairan nan dikoordinasikan oleh Oman alias AS
Skema Pemisahan Lalu Lintas Selat Hormuz ini diadopsi IMO pada tahun 1968, menetapkan jalur rute melalui perairan Iran dan Oman. Perlu diketahui, bagian tengah Selat Hormuz saat ini tidak dapat digunakan lantaran akibat ranjau, menurut sumber-sumber keamanan pelayaran dan maritim.
Sebelumnya golongan info angkatan laut utama mengusulkan koridor pelayaran pengganti Sabtu lalu. Mereka meminta pemilik kapal untuk mempertimbangkan melintasi selat melalui rute selatan dengan sinyal transponder mereka aktif.
"Rute transit selatan, di sepanjang perairan teritorial Oman, telah dipastikan bebas ranjau dan merupakan rute nan direkomendasikan," bunyi pemberitahuan tersebut. Tapi tak diketahui pasti apakah rute ini nan dipakai untuk berlayar sesuai ketentuan IMO.
Sebenarnya, menurut kajian Kpler, lampau lintas Hormuz lainnya telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, dengan pelayaran rata-rata lebih dari 25 kapal per hari dalam beberapa hari terakhir, dibandingkan dengan sekitar 10-11 kapal per hari sebelumnya. Ini tetap sebagian mini dari pelayaran harian rata-rata 125 kapal sebelum perang dimulai pada 28 Februari.
Saat ini, banyak kapal telah mengaktifkan transponder pencarian AIS publik mereka. Meski, beberapa diyakini tetap tidak terdeteksi sebagian lantaran gangguan besar pada sinyal AIS, serta sengaja tidak menunjukkan pergerakan saat melalui selat tersebut.
Menurut perkiraan IMO dan pasar, terdapat antara 500 dan 600 kapal nan terdampar di dalam Teluk, termasuk sebanyak 100 kapal tanker. Perlu diketahui, inisiatif IMO tidak mendukung kapal-kapal nan mau memasuki Teluk untuk mengambil muatan minyak dari produsen Teluk.
Tapi...
Sementara itu, mengutip CNBC Internasional, Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah memperingatkan pemilik kapal bahwa setiap "rute transit baru" melalui Selat Hormuz nan dibuat tanpa koordinasi dengan Teheran adalah "tidak dapat diterima dan berbahaya. Iran menakut-nakuti tindakan terhadap kapal-kapal nan mengabaikan instruksinya.
Angkatan Laut IRGC mengatakan bahwa hanya rute pelayaran nan ditentukan oleh Iran nan diizinkan untuk dilalui. Koordinasi dengan pasukan Iran melalui saluran komunikasi nan ditentukan adalah wajib.
"Navigasi di luar rute ini sangat rawan dan dilarang, dan kami memperingatkan semua kapal untuk betul-betul menghindari pergerakan apa pun di luar koridor nan ditentukan," kata IRGC, menurut laporan tersebut.
Perlu diketahui, Iran hendak pengenalan biaya bagi kapal nan melintasi Selat Hormuz. Namun AS menganggap ini upaya "memeras perdagangan maritim global".
(sef/sef)
Addsource on Google

1 bulan yang lalu
16







English (US) ·
Indonesian (ID) ·