Antrian BBM subsidi Pertalite di salah satu SPBU di Sungailiat didominasi kendaraan roda dua berkapasitas tangki 10 liter, diduga pengerit.(MI/Rendy Ferdiansyah)
MASYARAKAT di Provinsi Bangka Belitung (Babel) kian mengeluh akibat sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di beragam Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi ini memaksa penduduk kudu mengantre hingga berjam-jam demi mendapatkan jatah bahan bakar.
Fenomena antrean panjang ini disinyalir terjadi sejak pemerintah meningkatkan nilai BBM nonsubsidi jenis Pertamax, nan memicu migrasi besar-besaran konsumen ke Pertalite. Namun, situasi diperparah oleh maraknya tindakan pengerit atau oknum nan membeli BBM subsidi secara berulang kali untuk dijual kembali.
Lukman, seorang penduduk Sungailiat, Bangka, mengungkapkan bahwa para pengerit ini meraup untung dengan memanfaatkan selisih harga. Mereka membeli Pertalite di SPBU seharga Rp10.000 per liter, lampau menjualnya dengan nilai jauh lebih tinggi ke pengecer maupun penambang pasir timah.
"Mereka melakukan pengisian berulang kali menggunakan sepeda motor. Ada juga nan menggunakan mobil dengan langkah berpindah-pindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya," ujar Lukman.
Ia mempertanyakan efektivitas sistem barcode nan semestinya membatasi pembelian.
"Gak mungkin sehari satu mobil lenyap 30 liter jika bukan pikulan umum. Sudah pasti itu dibeli untuk dijual kembali," tegasnya.
Keluhan senada disampaikan Wati, penduduk lainnya. Ia mengaku kudu mengantre antara 30 menit hingga satu jam di jalur sepeda motor nan mengular.
"Di pengecer sekarang harganya sudah Rp15.000 per liter. Makanya saya terpaksa antre siang alias sore demi keperluan antar anak sekolah," kata Wati.
Perbandingan Harga dan Kondisi Lapangan
| Harga Pertalite di SPBU | Rp10.000 per liter |
| Harga Pertalite di Pengecer | Rp15.000 per liter |
| Waktu Antrean Rata-rata | 30 Menit - 2 Jam |
| Modus Pengerit | Pengisian berulang, pindah SPBU, modifikasi tangki/derigen |
Menanggapi tudingan tersebut, Rini, Kuasa SPBU Parit Padang Sungailiat, membantah jika wilayahnya dikuasai pengerit. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menerapkan patokan ketat sesuai prosedur.
"Kami membatasi pengisian hanya boleh satu kali, dan kendaraan roda empat wajib menggunakan satu barcode," jelasnya.
Rini juga menyatakan ketidaktahuannya mengenai aktivitas pengerit nan memindahkan BBM ke jerigen di area luar SPBU. Namun, dia menjamin bakal memberikan hukuman tegas bagi petugas nozel nan terbukti bekerja sama dengan oknum pengerit.
"Jika ada petugas kami nan bermain dan menerima duit dari pengerit, sanksinya adalah pemecatan," tegas Rini.
Sementara itu, Plt Kasat Polpp Kabupaten Bangka, Achmad Suherman, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying. Ia memastikan pihaknya terus melakukan pemantauan di lapangan untuk menjaga kelancaran distribusi.
"Kami terus memantau seluruh SPBU di Bangka guna memastikan antrean melangkah lancar dan meminimalisir penyalahgunaan BBM subsidi," pungkasnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean Pertalite di jalur kendaraan roda dua memang didominasi oleh motor dengan kapabilitas tangki besar (sekitar 10 liter), nan diduga kuat sering digunakan oknum untuk aktivitas pengeritan secara berulang. (Z-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·