Ada Keraguan Soal Data Covid-19 di RI, Ini Tanggapan Satgas

  • Whatsapp

Jakarta, CNBC Indonesia – Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan data Covid-19 yang disajikan secara rutin merupakan data yang bersumber dari pemerintah daerah dan terakumulasi dari sistem data kesehatan yang dinaungi oleh Kementerian Kesehatan. Keaktualan data yang tercatat dan yang terjadi di lapangan menurutnya sangat bergantung pada kepada sistem laporan dan transparansi sistem pencatatan.

“Untuk itu kami mendorong Satgas Daerah memperbaiki sistem pencatatan masing-masing yang dilakukan paralel dengan upaya pemerintah pusat membangun data,” kata Wiku, Jumat (4/6/2021).

Berdasarkan data nasional, kondisi Covid-19 cukup terkendali. Semua itu, menurut Wiku, disebabkan penerapan PPKM Mikro yang efektif sehingga kasus di tingkat terkecil bisa terdeteksi dan memperoleh penanganan.


Dalam satu pekan terakhir kasus Covid-19 secara nasional mencapai 15,1% hingga Kamis (3/6/2021). Kenaikan ini lebih rendah dibandingkan pekan lalu naik 30%.

“Kita masuk minggu kedua pasca libur Idul Fitri, artinya kenaikan kasus pada periode ini sudah dapat diklaim sebagai dampak dari libur Idul Fitri,” kata Wiku.

Sebelumnya, sebuah studi mengungkap kasus Covid-19 di Indonesia diperkirakan jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang dirilis oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. Hingga kini Indonesia mencatat total kasus 1,83 juta, namun para ahli epidemiologi memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi karena kurangnya pengujian dan penelusuran kontak.

Dilansir dari Reuters, hal ini juga diungkapkan dari hasil studi seroprevalensi besar pertama di Indonesia yang menguji antibodi. Satu studi nasional antara Desember dan Januari menunjukkan 15% orang Indonesia telah tertular Covid-19, sementara ketika angka resmi pada akhir Januari mencatat infeksi hanya sekitar 0,4% orang.

Bahkan saat ini total infeksi positif di Indonesia baru sekitar 0,7% dari jumlah penduduk. Hasil survei tidak terduga diberikan di bawah pelaporan, Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono dengan bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan studi ini masih awal, tetapi mungkin ada lebih banyak kasus daripada yang dilaporkan secara resmi karena banyak kasus tidak menunjukkan gejala. Dia mengatakan Indonesia memiliki pelacakan kontak yang rendah dan kurangnya laboratorium untuk memproses tes.

[Gambas:Video CNBC]

(rah/rah)

Pos terkait