AI Bukan Musuh, Seniman Muda Pilih Kolaborasi dengan Kecerdasan Buatan

4 jam yang lalu 2
AI Bukan Musuh, Seniman Muda Pilih Kolaborasi dengan Kecerdasan Buatan Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA)

PERKEMBANGAN Artificial Intelligence (AI) saat ini sudah tidak dapat dihindarkan, teknologi kepintaran buatan telah masuk ke banyak lini industri, termasuk ruang-ruang kreatif para seniman.

Dalam obrolan panel pameran 'Art for Peace and a Better Future: Collaboration' dua seniman muda, Koelo Mariam dan La Ode Umar, membagikan pandangan mereka tentang gimana kehadiran AI di bumi seni. Kudanya pun kompak menempatkan AI bukan sebagai musuh nan kudu diperangi, melainkan sebuah perangkat bantu dalam berkreasi.

La Ode Umar menekankan bahwa teknologi adalah sesuatu nan mustahil untuk dilawan. Baginya, perkembangan teknologi nan sangat sigap menuntut manusia untuk hidup berdampingan. "Kita tidak bisa melawan teknologi. Jalan satu-satunya adalah kita kudu hidup berdampingan," ujar La Ode dalam obrolan publik nan berjalan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (22/8).

Memilih menjadikan AI sebagai perangkat bantu dalam upaya melahirkan karya, La Ode mengaku tidak cemas bahwa AI bakal menggeser seniman, dia mempunyai kepercayaan kuat pada satu aspek nan tidak dimiliki mesin, ialah rasa. Menurutnya, AI mungkin bisa menciptakan gambar nan secara
estetika sempurna baik dari komposisi warn dan corak nan bagus tapi hanya manusia nan bisa menempatkan rasa dalam sebuah karya seni.

"AI hanya sekadar bagus secara estetika, tapi di situ tidak ada rasanya, tidak ada emosi seniman nan dituangkan. Rasa itulah nan tidak bisa diambil alih oleh teknologi," tegasnya. 

AI Sebagai Teman Diskusi

Sementara itu, Mariam menyatakan bahwa selama ini dia kerap menjadikan AI sebagai kawan obrolan dalam merancang buahpikiran untuk melahirkan karya seni, dan bukan untuk membikin gambar (image generator).

"Aku tidak menggunakan AI untuk generate visual lantaran saya tetap mau belajar, tetap mengasah rasa artistikku," sebutnya.

Ia bercerita, dalam beberapa kesempatan, kerap bertanya kepada AI seperti apakah pesan dalam karyanya mudah dipahami masyarakat awam alias tidak.

"Saya beberapa kali sempat bertanya dengan AI, misalnya saya buat promo seperti 'Kamu sebagai orang awam bisa menangkap tidak makna karya ini?'. Kadang tuh kelak AI jelasin gini gini gini gini gini gini, terus dia biasa kasih saran. Jadi dalam konteks penggunaan AI, saya melakukan seperti itu," tukas Mariam. (H-2)

Selengkapnya