Alert! Utang Nasional AS Tembus Ambang Batas, Capai Rp 712 Ribu T

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang nasional Amerika Serikat (AS) secara resmi telah menembus nomor US$ 40 triliun (sekitar Rp 712.000 triliun) untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pemecahan rekor mengerikan ini memicu peringatan keras bakal terjadinya krisis fiskal lantaran meroketnya biaya program jaring pengaman sosial dan pembayaran kembang utang nan sekarang jauh melampaui pendapatan negara akibat pemotongan pajak besar-besaran.

Mengutip Reuters, Kamis (20/08/2026), Departemen Keuangan AS melaporkan bahwa total utang publik nan beredar menyentuh US$ 40,047 triliun pada hari Selasa lalu. Total jumbo tersebut mencakup surat berbobot Departemen Keuangan nan dipegang oleh publik sebesar US$ 32,266 triliun (Rp 574.334,8 triliun) dan kepemilikan utang antar-pemerintah senilai US$ 7,782 triliun (Rp 138.519,6 triliun).

Tanda-tanda kepanikan mulai terlihat di pasar obligasi dunia lantaran permintaan dari penanammodal asing, nan memegang nyaris sepertiga surat utang AS, terus menyusut selama setahun terakhir. Imbal hasil obligasi tenor panjang pada hari Selasa juga telah melonjak ke level tertingginya dalam nyaris dua dasawarsa terakhir setelah lelang obligasi senilai US$ 25 miliar (Rp 445 triliun) mencatatkan imbal hasil tertinggi sejak 2021.

Merespons tekanan ekstrem tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Rabu langsung mengambil manuver garang dengan menggandakan ukuran pembelian kembali (buyback) untuk surat utang bertenor 10 hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$ 4 miliar (Rp 71,2 triliun) per operasi guna menekan turun imbal hasil obligasi.

Namun, Presiden AS Donald Trump justru merespons gejolak ini dengan santuy saat ditanya apakah rakyat Amerika kudu cemas dengan volatilitas pasar obligasi, dan dia justru kembali menuntut penurunan suku bunga.

"Saya tidak berpikir begitu sama sekali. Saya pikir kita mempunyai negara nan sangat kuat, dan kita sedang melewati suku kembang konyol ini, mereka konyol. Dengar, ketika negara kita kuat, suku kembang kudu turun," ucap Trump.

Warisan Utang Gila-gilaan dari Era ke Era

Membengkaknya tumpukan utang ini sejatinya mempunyai latar belakang nan panjang. Utang pemerintah federal sekarang telah berlipat dobel dalam waktu kurang dari satu dekade, berasal dari nomor US$ 19,95 triliun (Rp 355.110 triliun) saat Trump pertama kali dilantik pada Januari 2017.

Utang AS tercatat melesat sebesar US$ 11,6 triliun (Rp 206.480 triliun) selama dua masa kedudukan Trump di Gedung Putih. Rinciannya, utang publik membengkak US$ 7,8 triliun pada periode pertamanya nan sebagian besar dipicu oleh pandemi, dan sejak dilantik kembali pada Januari 2025, beban utang kembali ditambah sebesar US$ 3,8 triliun.

Sementara itu, selama empat tahun masa kedudukan mantan Presiden Joe Biden, utang AS juga meledak sebesar US$ 8,4 triliun (Rp 149.520 triliun). Beban di era Biden didorong oleh shopping pemulihan COVID-19, investasi prasarana raksasa, hingga subsidi daya bersih.

Sekitar sepertiga dari total lonjakan utang dalam sedekade terakhir murni berasal dari pinjaman gila-gilaan era pandemi oleh kedua presiden, sementara sisanya adalah akibat ketidakseimbangan struktural jangka panjang antara pajak dan pengeluaran. Presiden Committe for a Responsible Federal Budget (CRFB), Maya MacGuineas, memberikan peringatan tajam atas kegilaan fiskal ini.

"Empat puluh triliun dolar utang tidak hanya ada di kitab besar pemerintah; itu dirasakan di seluruh ekonomi dan menemukan jalannya ke kantong orang-orang dengan satu alias lain cara," tutur Maya.

"Semakin banyak kita meminjam, semakin kita memperburuk inflasi, memeras prioritas lain dalam anggaran, dan membikin diri kita rentan terhadap keadaan darurat di dalam negeri dan gejolak di luar negeri," tegasnya.

Pencapaian nomor US$ 40 triliun ini terjadi hanya berselang kurang dari lima bulan setelah utang AS menyentuh US$ 39 triliun. Menariknya, jumlah ini telah berlipat dobel empat kali lipat dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, setelah sebelumnya AS butuh waktu hingga tahun 1981 hanya untuk menembus utang US$ 1 triliun pertamanya.

"Sungguh mengejutkan sungguh terprediksinya penurunan fiskal kekuatan dunia bisa terjadi," pungkasnya.

Defisit nan Makin Mencekik Kondisi kas negara AS saat ini betul-betul sekarat. Pekan lalu, Departemen Keuangan AS melaporkan defisit bulanan tertinggi keempat dalam sejarahnya, ialah US$ 432 miliar (Rp 7.689,6 triliun) untuk bulan Juli saja. Angka ini hancur akibat pengembalian tarif nan membikin penerimaan bea cukai negatif selama tiga bulan berturut-turut, ditambah biaya Jaminan Sosial dan Medicare nan terus meledak. Bahkan, defisit untuk 10 bulan pertama tahun fiskal 2026 ini telah melampaui total celah defisit sepanjang tahun fiskal 2025.

Meskipun Trump meluncurkan Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) untuk memangkas pekerja pemasok federal, pemotongan ini hanya menargetkan porsi terkecil dari anggaran namalain anggaran diskresioner. Kenyataannya, AS menghabiskan sekitar US$ 7 triliun (Rp 124.600 triliun) setiap tahun, dan 60% di antaranya sudah dikunci untuk program wajib seperti Jaminan Sosial, Medicare, Medicaid, dan perawatan veteran.

Celakanya lagi, paket legislatif kebanggaan Trump di periode kedua, One Big Beautiful Bill Act, diperkirakan bakal menyumbang tambahan utang baru sebesar US$ 4,7 triliun (Rp 83.660 triliun) menurut hitungan Kantor Anggaran Kongres (CBO).

Di luar biaya program tersebut, AS sekarang kudu membakar US$ 1,1 triliun (Rp 19.580 triliun) murni hanya untuk bayar kembang utangnya. Beban biaya jasa utang ini untuk pertama kalinya resmi melampaui pendanaan Pentagon pada anggaran tahun fiskal 2025. Tragisnya lagi, pada 10 bulan pertama tahun fiskal 2026, ongkos kembang tersebut telah resmi mengalahkan pengeluaran kesehatan Medicare dan menjadi pos anggaran terbesar kedua pemerintah di bawah Jaminan Sosial.

Semua ini kian diperparah oleh membengkaknya beban biaya perawatan kesehatan untuk generasi baby boom nan menguras biaya perwalian negara, sementara penerimaan pajak penghasilan dan penghasilan terus kandas menutupi biaya operasional pemerintahan Paman Sam.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya