Arus Modal Asing Masuk Indonesia US$5,9 Miliar per Agustus 2026

1 jam yang lalu 6
Arus Modal Asing Masuk Indonesia US$5,9 Miliar per Agustus 2026 ilustrasi(Antara)

Permata Institute for Economic Research (PIER) melaporkan arus modal asing ke Indonesia tetap berada di area positif di tengah dinamika ekonomi dunia nan penuh ketidakpastian. Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, total aliran modal asing nan masuk tercatat mencapai sekitar 5,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa aliran modal tersebut kebanyakan tetap tertuju pada instrumen jangka pendek. Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi primadona dengan mencatatkan inflow sebesar 9,4 miliar dolar AS. Sementara itu, instrumen obligasi mencatat masuknya biaya sekitar 610 juta dolar AS.

Namun, kondisi berbeda terjadi di pasar ekuitas. Josua mengungkapkan bahwa pasar saham justru mengalami arus modal keluar (outflow) sebesar 4,12 miliar dolar AS dalam periode nan sama.

“Jadi memang inflows saat ini tetap kebanyakan ke instrumen-instrumen nan short term dan juga SRBI. Sementara nan equity, nan lebih mencerminkan investasi jangka panjang, condong tetap outflow,” ujar Josua dalam economic review kuartal II-2026 di Jakarta, Senin (11/8).

Rincian Arus Modal Asing (Januari - Agustus 2026)

Instrumen Investasi Arus Modal (Dolar AS)
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) + 9,4 Miliar
Obligasi + 610 Juta
Pasar Saham (Equity) - 4,12 Miliar
Total Arus Modal Masuk ~ 5,9 Miliar

Ketahanan Pasar Surat Berharga Negara (SBN)

Di pasar surat utang domestik, pedoman penanammodal Indonesia menunjukkan ketahanan nan solid. Total kepemilikan SBN meningkat sebesar Rp414 triliun, sehingga total posisi mencapai Rp6.983 triliun. Meski kepemilikan perbankan pada SBN menyusut sekitar Rp257 triliun, sektor lain justru mencatatkan kenaikan signifikan.

Investor asing menambah kepemilikan SBN sekitar Rp18 triliun, Bank Indonesia bertambah Rp98 triliun, serta sektor asuransi dan biaya pensiun meningkat sekitar Rp143 triliun. Josua juga menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun nan naik 121 pedoman poin ke level 7,28% hingga penutupan Jumat lalu, nan merupakan salah satu kenaikan tertinggi di antara negara-negara Asia.

Faktor Pendorong dan Proyeksi Ke Depan

Pemulihan aliran modal mulai terlihat signifikan pada Juni 2026, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik global, termasuk perkembangan negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Di sisi domestik, penempatan likuiditas perbankan pada instrumen BI, khususnya SRBI, meningkat Rp368 triliun hingga awal Agustus.

Josua menekankan pentingnya kepastian kebijakan domestik untuk menarik kembali minat penanammodal pada aset berisiko seperti saham. Isu mengenai indeks MSCI dan kebijakan pemerintah menjadi perhatian utama penanammodal saat ini.

“Investor perlu memandang perkembangan secara lebih granular. Meski ada tekanan global, kesempatan investasi di Indonesia tetap terbuka pada aset dan sektor tertentu nan mempunyai prospek positif sesuai profil akibat masing-masing,” pungkasnya.

Selengkapnya