Mike Huckabee.(MEE)
PASUKAN Israel pada Kamis (13/8) bergerak menindak golongan pemukim radikal nan mengepung penduduk Palestina di Qusra, dekat Nablus. Langkah ini diambil di tengah kecaman keras nan tidak biasa dari Amerika Serikat, apalagi saat Israel di sisi lain meresmikan kembali suatu permukiman simbolis di wilayah Tepi Barat.
Sejak Minggu, para pemukim di Qusra memblokade rumah-rumah penduduk Palestina, termasuk satu rumah milik penduduk negara AS. Penduduk melaporkan bahwa mereka terputus dari akses makanan dan pasokan kebutuhan dasar lainnya akibat pengepungan tersebut.
Militer Israel menyatakan telah mengirim pasukan ke area tersebut semalam dan membongkar dua pos terdepan (outpost) terlarangan serta menahan satu penduduk Israel. Pasukan tetap disiagakan di letak untuk melindungi masyarakat dan menjaga keamanan, menurut pernyataan resmi militer.
Meskipun tenda dan selimut mereka disita oleh tentara, saksi mata menyebut para pemukim tetap memperkuat di atas bebatuan di bukit terdekat. "Sejauh ini, belum ada nan bisa menyalurkan makanan dan pasokan kepada kami lantaran area tersebut ditutup sepenuhnya oleh tentara," ujar Aisha Hassan, salah satu penduduk nan terjebak di dalam rumah nan dikepung.
Kecaman Keras Duta Besar AS
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, nan selama ini dikenal sebagai pendukung setia permukiman, mengeluarkan pernyataan tajam dengan menyebut pengepungan tersebut sebagai, "Perilaku preman nan tidak bisa dimaafkan."
"Tindakan mereka nan melakukan tindakan teror mengerikan ini, nan dimaksudkan untuk mengintimidasi dan melecehkan family ini, sangat menjijikkan," tulis Huckabee melalui platform X. Ia menambahkan bahwa intervensi militer Israel dilakukan atas permintaan Amerika Serikat.
Kecaman ini dinilai sangat mencolok mengingat latar belakang Huckabee sebagai pendeta evangelis nan secara historis mendukung klaim permukiman Yahudi di Tepi Barat dan menolak pendapat negara Palestina.
Kontradiksi Kebijakan di Ganim
Di saat militer menindak pemukim di Qusra, sejumlah pejabat tinggi Israel, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz, justru merayakan pembukaan kembali permukiman Ganim di utara Tepi Barat pada hari nan sama.
Permukiman Ganim sebelumnya dibongkar lebih dari 20 tahun lampau sebagai bagian dari rencana penarikan diri (disengagement plan) pemerintah Israel saat itu untuk mengurangi gesekan di wilayah padat masyarakat Palestina. "Di sini, ini Tanah Israel. Di sini, kita bakal tinggal selamanya," tegas Katz dalam upacara peresmian tersebut.
Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan lampu hijau untuk membangun kembali Ganim guna menarik pedoman pendukung sayap kanan menjelang pemilu 27 Oktober mendatang, nan menurut jajak pendapat bakal berjalan sangat ketat.
Kritik dari Oposisi dan PBB
Gadi Eisenkot, penantang utama Netanyahu dalam pemilu mendatang, menyebut peristiwa di Qusra sebagai bukti kegagalan dan kelemahan pemerintah. "Menghadapi kekacauan dan pelanggaran norma oleh minoritas radikal, pemerintah membiarkan komandan IDF berjuang sendirian," tulisnya.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah pendudukan Palestina juga mendesak otoritas Israel untuk segera bertindak tegas. PBB menyatakan bahwa tindakan pidana pemukim, nan sering kali didukung alias dibiarkan oleh Israel sebagai kekuatan pendudukan, bermaksud memaksa penduduk Palestina meninggalkan tanah mereka.
Uni Eropa melalui ahli bicara kebijakan luar negeri Anitta Hipper turut menyerukan agar Israel mengambil tindakan nyata untuk mencegah kekerasan pemukim. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, kekerasan oleh pemukim Israel terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat dilaporkan meningkat drastis. (AFP/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·