Konsep artistik ini membandingkan Bumi kita nan familiar dengan planet nan sangat asing nan dikenal sebagai 55 Cancri e. Planet ini kemungkinan terbuat dari material ringan — tidak seperti mega-Bumi baru nan ditemukan para intelektual nan tampaknya berbatu(NASA/JPL-Caltech/R. Hurt (SSC))
PARA astronom sukses mengidentifikasi sebuah planet luar tata surya (eksoplanet) berukuran luar biasa nan dikategorikan sebagai "Mega-Earth" alias Bumi Mega. Planet berbatu raksasa ini tercatat mempunyai massa mencapai 23 kali lipat dari massa Bumi, menjadikannya salah satu planet padat paling masif nan pernah ditemukan umat manusia.
Planet nan diberi nama resmi LHS 1140 b tersebut berada di area sistem bintang lain nan berjarak sekitar 48 tahun sinar dari Bumi, tepatnya di dalam konstelasi Cetus. Penemuan ini memikat perhatian organisasi astronomi dunia lantaran ukurannya nan melampaui pemisah kategori planet berbatu "Super-Earth" pada umumnya.
Meskipun mempunyai massa 23 kali lipat lebih berat, diameter LHS 1140 b diperkirakan hanya sekitar 1,7 kali lipat dari diameter Bumi. Kombinasi antara ukuran bentuk nan tidak terlalu besar dan massa nan sangat berat ini mengindikasikan bahwa LHS 1140 b mempunyai kerapatan nan sangat tinggi, dengan struktur penyusun utama berupa batuan padat dan inti besi nan sangat pekat.
Planet raksasa ini mengorbit sebuah bintang katai merah (red dwarf) nan berukuran lebih mini dan lebih dingin dibandingkan Matahari kita. Menariknya, LHS 1140 b mengorbit di dalam area nan dikenal sebagai area layak huni (habitable zone), ialah jarak ideal di mana suhu permukaan planet memungkinkan air berada dalam bentuk cair, bukan membeku alias menguap.
Zona layak huni merupakan salah satu syarat utama bagi para intelektual dalam mengukur potensi keberadaan kehidupan di luar Bumi. Kendati mengorbit bintang katai merah, nan umumnya dikenal sering memancarkan radiasi suar (flare) mematikan, bintang induk LHS 1140 b tergolong lebih tenang dan memancarkan radiasi rawan nan relatif lebih sedikit dibandingkan bintang sejenisnya.
Kondisi atmosfer dan kestabilan bintang induk tersebut memberikan angan besar bagi para peneliti. LHS 1140 b sekarang menjadi salah satu sasaran utama untuk studi pengamatan atmosfer lebih lanjut menggunakan teleskop luar angkasa canggih, guna mendeteksi keberadaan uap air, oksigen, alias tanda-tanda kimiawi pendukung kehidupan lainnya di masa mendatang. (space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·