ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus mengeklaim bahwa Teheran telah menyetujui beragam konsesi besar dalam negosiasi nan sedang berjalan pasca-perilisan nota kesepahaman (MOU) pekan lalu. Namun, seluruh klaim sepihak Washington tersebut tidak tercantum dalam arsip resmi dan secara konsisten terus dibantah oleh pihak Iran.
Mengutip kajian CNN, Rabu (24/06/2026), situasi ini memicu ketidakpastian dunia mengenai arah perdamaian kedua negara. Isu utama nan menjadi perdebatan sengit meliputi izin inspeksi nuklir, kendali atas pencairan aset berbobot miliaran dolar, hingga status bebas biaya di jalur jual beli strategis Selat Hormuz.
Inspeksi Nuklir
Sengkarut klaim ini memuncak pada Selasa pagi ketika Presiden Donald Trump membikin pernyataan masif melalui akun media sosial Truth Social miliknya. Ia menyatakan bahwa Iran telah berkomitmen penuh untuk membuka akses bagi pengawasan ketat program nuklir mereka tanpa pemisah waktu.
"... Iran telah sepenuhnya dan secara total menyetujui inspeksi Nuklir tingkat tertinggi jauh ke masa depan (Tak Terbatas!!!)," tulis Trump. "Ini bakal memastikan 'Kejujuran Nuklir.' Jika mereka tidak menyetujui perihal ini, tidak bakal ada negosiasi lebih lanjut!"
Senada dengan sang presiden, Wakil Presiden JD Vance dalam konvensi pers pada hari Senin di Swiss menyebut kesepakatan masuknya tim pengawas Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebagai sebuah pencapaian besar. Namun, narasi tersebut langsung dimentahkan oleh ahli bicara kementerian luar negeri Iran, Esmail Baghaei, nan menegaskan kerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB itu hanya bakal melangkah sesuai dengan prosedur lama nan sudah ada.
"Kerja sama dengan IAEA bakal bersambung di bawah prosedur saat ini," tegas Baghaei sembari menambahkan bahwa negaranya tidak membikin komitmen baru alias mengizinkan pemeriksaan pada situs nuklir nan rusak akibat perang.
Di sisi lain, Trump menolak melunak dan tetap bersikeras dengan klaimnya saat berada di Pennsylvania pada Selasa sore. Ia apalagi menakut-nakuti bakal membubarkan agenda diplomasi jika pihak Iran terbukti berbohong.
"Mereka salah, mereka salah," cetus Trump di hadapan para jurnalis. "Kita sudah mencatatnya: 100% inspeksi. Dan jika mereka nan benar, saya bakal membatalkan pertemuan-pertemuan ini sekarang juga."
Penggunaan Aset nan Dicairkan untuk Produk Amerika Serikat
Pemerintahan Trump pekan ini juga menyatakan bahwa biaya miliaran dolar milik Iran nan dicairkan dalam draf perdamaian wajib dibelanjakan untuk produk-produk pertanian asal Amerika. Langkah ini diklaim sebagai strategi tim negosiasi ketua Jared Kushner agar biaya tersebut tidak disalahgunakan untuk membangun kembali kekuatan militer Teheran.
"Uang tersebut sebenarnya bakal digunakan untuk membeli kedelai Amerika, jagung Amerika, dan gandum Amerika untuk kepentingan rakyat Iran," kata Vance pada hari Senin. "Jika aset Iran dicairkan, mereka bakal membikin petani Amerika lebih kaya dan membantu memberi makan rakyat Iran."
Meskipun Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz ikut mempromosikan klaim ini, dia mengakui bahwa sistem pengawasan biaya tersebut sebenarnya belum berkarakter final.
"Bagaimana langkah kita mengontrol duit tersebut sedang dinegosiasikan saat ini saat kita berbicara," saya Waltz saat ditekan mengenai kekuatan norma kesepakatan tersebut.
Bantahan keras pun langsung dilayangkan oleh Duta Besar Iran untuk PBB, Ali Bahreini, pada hari Selasa nan menegaskan kedaulatan penuh negaranya atas aset finansial tersebut.
"Iran adalah satu-satunya negara nan memutuskan apa nan kudu dilakukan dengan asetnya," tegas Bahreini. "Saya menolak klaim apa pun mengenai adanya peran negara lain untuk memengaruhi keputusan alias proses tersebut."
Selat Hormuz Bebas Biaya Tol
Terkait rute logistik global, arsip resmi MOU sebenarnya hanya menyatakan bahwa kapal-kapal komersial diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa biaya untuk jangka waktu nan sangat terbatas.
"Kapal bakal diizinkan transit di Selat Hormuz tanpa biaya, hanya untuk 60 hari," demikian bunyi quote dalam arsip kerja sama tersebut.
Namun, Trump menyatakan di hadapan para pemimpin G7 di Prancis bahwa jalur daya vital tersebut bakal digratiskan secara permanen setelah masa tenggang 60 hari berakhir.
"Seseorang berkata, oh, ini bebas biaya tol untuk - tidak, tidak, ini bebas biaya tol, titik," kata Trump. "Ketika jalur ini dibuka secara permanen, jalurnya bakal bebas biaya tol. Kita sempat berdebat sedikit tentang perihal itu; tapi itu bebas biaya tol."
Sebaliknya, pihak Iran menolak klaim cuma-cuma permanen tersebut dan dilaporkan mulai bergerak untuk menerapkan skema penarikan tarif jasa maritim bagi kapal nan melintas. Perselisihan nan tetap buntu ini apalagi membikin Trump mengeluarkan ancaman sepihak pada akhir pekan lampau untuk mengerahkan militer demi mengambil alih kendali Selat Hormuz.
(tps/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·