Bersaing Ketat dengan Vietnam, RI Punya Potensi di Industri Ini

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek permintaan lahan industri di Indonesia diprediksi tetap berpotensi besar. Permintaan tetap bakal mengalir, terutama dari sektor-sektor nan diprediksi berkesempatan tumbuh jangka panjang.

Demikian mengutip Laporan Kawasan Industri Jakarta Q2 2026 nan dirilis Colliers Indonesia, merujuk pada potensi upaya area industri di Jabodetabek. Ke depan, area industri di wilayah Jabodetabek disebut tetap bakal tetap handal secara fundamental. Meski di tengah tetap selektifnya suasana investasi. 

Colliers mencatat, sepanjang kuartal II-2026, total penyerapan lahan industri di area Jabodetabek mencapai sekitar 37 hektare (ha). Angka tersebut mencerminkan aktivitas pasar nan lebih selektif dibandingkan periode sebelumnya. Bahkan disebut sedang dalam fase masuknya investasi baru.

Ekonomi Indonesia nan diyakini semakin bertumbuh dan berkembang, meluasnya ekonomi ekosistem digital, serta berlanjutnya proyek-proyek hilirisasi industri disebut-sebut jadi aspek berpengaruh.

Pasar area industri di Indonesia disebut sedang dalam masa transisi menuju transaksi berbasis nilai, daripada hanya sekadar berbasis volume.

Menurut Colliers, sektor-sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang menjanjikan menjadi penopang upaya area industri di Indonesia, dalam perihal ini di wilayah Jabodetabek. Terutama sektor-sektor pusat data, logistik, industri mengenai kendaraan listrik, elektronik, industri FMCG, jasa kesehatan, serta ekspansi oleh penyewa area industri eksisting.

Namun, kajian berbeda diberikan mengenai industri manufaktur padat karya dan berorientasi ekspor. Menurut Colliers, sektor-sektor ini kemungkinan bakal tetap lebih berhati-hati lantaran penanammodal terus mengevaluasi daya saing regional, biaya operasional, dan kepastian kebijakan sebelum memutuskan merealisasikan ekspansi besar.

Di sisi lain, developer area industri pun disebut mulai konsentrasi pada daya saing, mengantisipasi persaingan di masa depan. Tidak lagi hanya konsentrasi pada ekspansi penyediaan lahan. Tapi sekarang mulai mengutamakan keahlian menyediakan ekosistem industri terintegrasi nan didukung prasarana andal, kapabilitas utilitas nan dapat disesuaikan, serta kepastian operasional.

"Pasokan listrik nan memadai, prasarana nan tersedia dan memadai, dan konektivitas bakal menjadi aspek pembeda nan semakin penting. Sejalan pergeseran investasi industri menuju industri berbobot tambah tinggi dan padat teknologi," demikian dikutip dari laporan Colliers, Senin (8/10/2026).

Bersaing dengan Vietnam

Sementara, Indonesia pun kudu menghadapi persaingan dengan Vietnam. Sejumlah aspek disebut-sebut memengaruhi lanskap persaingan kawasan industri antara Indonesia dan Vietnam. Mulai dari kepastian kebijakan dan sentimen investor, kepercayaan investasi nan melampaui insentif, hingga kesesuaian letak dengan kebutuhan sektor usaha.

Dalam perihal ini, Colliers memandang Indonesia mempunyai kelebihan kompetitif.

Disebutkan, daya saing Indonesia semakin bergeser melampaui batas konvensional berbasis biaya. Menyusul semakin intensifnya penggunaan teknologi dalam produksi industri dan semakin canggihnya rantai pasok. Apalagi, penanammodal pun sekarang lebih mengutamakan kepastian operasional jangka panjang dibandingkan pertimbangan biaya jangka pendek.

"Transisi ini jadi kesempatan sekaligus tantangan. Meski persaingan antarnegara ASEAN sebagai tujuan investasi manufaktur diperkirakan bakal semakin ketat, Indonesia tetap mempunyai posisi nan kuat untuk menarik investasi di masa depan, dengan memanfaatkan skala pasar domestik, koridor industri strategis, serta ekonomi digital nan terus berkembang," tulis Colliers, dikutip Senin (10/8/2026).

"Perbaikan berkepanjangan mengenai konsistensi regulasi, ketersediaan infrastruktur dan pasokan listrik jadi aspek krusial dalam memperkuat posisi Indonesia," tambah Colliers.

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya