DEPUTI Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, saat konvensi Pers, Minggu (16/8) di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.(MI/Marianus Images)
DEPUTI Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyampaikan perkembangan terbaru penanganan gempa bumi magnitudo 7,7 nan mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam konvensi pers di Labuan Bajo, Minggu (16/8), Abdul mengatakan pemerintah pusat berbareng pemerintah wilayah dan beragam komponen masyarakat terus mempercepat penanganan darurat di tujuh kabupaten/kota terdampak gempa NTT.
“Pemerintah bisa segera mengidentifikasi situasi dan kondisi di lapangan, melakukan pengecekan langsung apa-apa saja nan dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Abdul.
Abdul mengatakan, berasas pemutakhiran info hingga Minggu (16/8) sore, total korban meninggal bumi akibat gempa NTT mencapai 53 orang. Rinciannya, satu orang di Manggarai Barat, 20 orang di Manggarai Timur, 25 orang di Manggarai, satu orang di Nagekeo, empat orang di Sikka, dan dua orang di Ende. Sementara itu, korban luka nan tetap menjalani perawatan di akomodasi kesehatan mencapai 135 orang.
Korban luka tersebut terdiri atas 12 orang di Sikka, 17 luka berat dan 20 luka ringan di Manggarai, 21 luka berat dan 59 luka ringan di Manggarai Timur, serta enam luka berat di Manggarai Barat.
Abdul menegaskan tidak ada laporan orang lenyap nan masuk ke Basarnas dari tujuh kabupaten/kota terdampak. Meski demikian, Basarnas tetap menyiagakan personel di Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan wilayah terdampak lainnya untuk mengantisipasi kebutuhan pencarian dan pertolongan.
995 Gempa Susulan
Abdul juga menyampaikan info BMKG mengenai aktivitas gempa susulan. Hingga Minggu, 16 Agustus pukul 15.00 WIB, tercatat 995 kali gempa susulan, namun hanya 46 kali nan dirasakan masyarakat.
“Tidak lebih dari 10 persen dari total gempa susulan nan dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Abdul, gempa susulan merupakan kejadian alam nan terjadi setelah gempa utama dan berangkaian dengan proses penyesuaian struktur patahan untuk kembali stabil.
BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada dan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi gedung sebelum kembali ke rumah.
Warga diminta memperhatikan kerusakan seperti retakan pada tiang, perspektif gedung nan lepas, maupun dudukan kuda-kuda genting nan bergeser. Jika ditemukan kerusakan, penduduk diminta segera melapor kepada RT, RW, pemerintah desa, alias BPBD setempat.
Hingga hari kedua penanganan, BNPB menerima info sementara 241 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 154 rumah rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan akibat gempa NTT. Abdul mengatakan info tersebut tetap bergerak dan bakal terus diverifikasi serta divalidasi.
Pendataan rumah rusak dinilai krusial untuk mempercepat proses pemulihan dan rekonstruksi, termasuk memastikan penduduk terdampak nan berkuasa mendapatkan support perbaikan rumah dapat terdata secara by name by address.
Di sektor infrastruktur, Abdul mengatakan ruas jalan kilometer 49 di Kecamatan Reo nan sebelumnya tertutup material longsor sekarang telah kembali dapat dilalui truk pengangkut BBM.
Pembersihan dilakukan Kementerian PU setelah longsor akibat gempa menutup akses jalan. Sejumlah titik jalan lainnya nan terdampak longsor juga nyaris seluruhnya telah dibersihkan. BNPB menargetkan akses nan tetap terdampak dapat kembali dilalui paling lambat Senin (17/8).
Untuk sektor kelistrikan, sejumlah wilayah nan sebelumnya mengalami blackout juga telah kembali mendapatkan pasokan listrik.
BNPB tetap meminta masyarakat melaporkan wilayah nan tetap mengalami pemadaman melalui call center BNPB 117 agar dapat segera dikoordinasikan dengan PLN.
BNPB juga telah membuka Posko Pendamping Nasional di Labuan Bajo dan Posko Taktis Lapangan di Maumere. Sementara itu, Media Center penanganan musibah ditempatkan di Kantor Bupati Manggarai Barat, Labuan Bajo.
Untuk support logistik, BNPB mengaktifkan Posko Dukungan Logistik Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Posko Penerimaan Logistik Utama di Bandara Labuan Bajo, serta Posko Logistik Pendukung di Maumere.
Masyarakat, organisasi, maupun beragam entitas nan mau memberikan support dapat menyalurkan support melalui posko-posko tersebut. Untuk mempercepat mobilisasi personel dan pengedaran bantuan, pemerintah juga menyiagakan sejumlah armada udara. Di Labuan Bajo disiagakan satu unit helikopter Caracal TNI AU, satu unit Bell 412 TNI AD, satu helikopter BNPB, serta dua pesawat Caravan dari Kementerian Perhubungan dan BNPB.
Sementara di Maumere disiapkan satu Bell 412 TNI AD, satu helikopter Panther TNI AL, dua helikopter Bell dari Kementerian Perhubungan, serta satu pesawat Caravan BNPB.
“Ini semua kita siagakan dan kita siap untuk digunakan, baik itu untuk mobilisasi personel maupun pengedaran logistik jika diperlukan,” ujar Abdul Muhari. (H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·