Bom Mobil Meledak, Kepala Intelijen Militer Tewas

53 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Departemen Intelijen Militer pasukan Libya timur, Mayor Jenderal Fawzi al-Mansouri, tewas dalam serangan peledak mobil di Benghazi pada Senin (10/8/2026) waktu setempat.

Melansir Reuters, seorang pejabat keamanan Libya mengatakan Mansouri tewas setelah peledak rakitan (IED) nan dipasang di bawah kendaraannya meledak saat dia hendak masuk ke mobil di depan rumahnya di area al-Sayyida Aisha, Benghazi timur. Pejabat nan berbincang dengan syarat anonim itu menyebut serangan tersebut sebagai "serangan teroris."

Menurut pejabat tersebut, ledakan sengaja menargetkan Mansouri. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berkuasa Libya mengenai pembunuhan kepala intelijen militer pasukan timur tersebut maupun pihak nan berada di kembali serangan.

Mansouri merupakan pejabat senior dalam struktur militer nan dipimpin Khalifa Haftar, tokoh kuat nan menguasai sebagian besar wilayah Libya timur dan selatan. Ia sebelumnya menjabat sebagai komandan Zona Militer Sabha sejak 3 Agustus 2021.

Haftar kemudian menunjuk Mansouri sebagai kepala Departemen Intelijen Militer pada 20 Mei 2024. Posisi tersebut membuatnya menjadi salah satu pejabat krusial dalam struktur keamanan pasukan Libya timur.

Pembunuhan Mansouri terjadi ketika Libya tetap terbelah antara dua pemerintahan nan bersaing. Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) nan diakui secara internasional dan dipimpin Abdul Hamid Dbeibeh berdomisili di Tripoli serta menguasai wilayah barat.

Sementara itu, wilayah timur dan sebagian besar selatan Libya berada di bawah pemerintahan nan ditunjuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan sekarang dipimpin Osama Hammad dengan pedoman pemerintahan di Benghazi.

Perpecahan politik tersebut telah berjalan selama bertahun-tahun dan berakar pada bentrok nan muncul setelah penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011. Situasi itu juga membikin Libya menghadapi persoalan keamanan serta persaingan kekuasaan nan belum sepenuhnya terselesaikan.

Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) selama ini berupaya mendorong proses politik nan dapat membuka jalan menuju pemilihan umum. Pemilu tersebut diharapkan bisa mengakhiri dualisme pemerintahan dan bentrok bersenjata nan tetap membayangi Libya.

(tfa/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya