BPS Kasih Penjelasan Harga Terkini Beras, Minyak Goreng-Bawang Putih

56 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sejumlah nilai pangan tetap berada di atas referensi pemerintah pada minggu pertama Agustus 2026. Komoditas nan perlu mendapat perhatian antara lain beras dan minyak goreng, sementara nilai bawang putih mulai menunjukkan penurunan meski tetap berada di atas nilai referensi penjualan (HAP).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, berasas pemantauan perkembangan nilai pangan hingga minggu pertama Agustus 2026, beras dan minyak goreng sudah berada pada level nilai nan relatif tinggi, meski perubahan IPH-nya relatif rendah.

"Kalau kita lihat beras dan minyak goreng ini level harganya sudah relatif tinggi di atas HAP, untuk minyak goreng dan beras juga ada beberapa sudah di atas HAP," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (10/8/2026).

Berdasarkan info BPS, secara nasional nilai rata-rata beras semua kualitas pada minggu pertama Agustus 2026 mencapai Rp15.545 per kilogram (kg), naik tipis 0,16% dibandingkan Juli 2026.

BPS juga mencatat tetap terdapat 106 kabupaten/kota nan mengalami kenaikan IPH beras hingga minggu pertama Agustus 2026.

Harga beras tertinggi apalagi mencapai Rp50.000 per kg, dengan sejumlah wilayah seperti Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Intan Jaya, dan Kabupaten Nabire masuk dalam daftar wilayah dengan nilai tertinggi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu argumen beras tetap perlu mendapat perhatian pemerintah, meskipun kenaikan nilai secara nasional relatif terbatas.

BPS menempatkan beras dalam golongan komoditas dengan level nilai tinggi, sementara perubahan IPH-nya relatif rendah.

Sementara untuk nilai minyak goreng (migor), BPS mencatat nilai rata-rata minyak goreng di pasar rakyat pada minggu pertama Agustus 2026 berada di kisaran Rp20.229 per liter dan secara umum turun tipis 0,04% dibandingkan Juli 2026.

Meski mengalami penurunan secara bulanan, level harganya tetap tergolong tinggi dan berada di atas nilai referensi penjualan (HAP).

BPS mencatat 82 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH minyak goreng hingga minggu pertama Agustus 2026. Harga tertinggi nan tercatat mencapai sekitar Rp60.000 per liter di Kabupaten Intan Jaya.

Dengan demikian, penurunan tipis secara nasional belum serta-merta berfaedah persoalan nilai minyak goreng selesai, terutama lantaran tetap terdapat wilayah dengan nilai nan sangat tinggi.

Bawang Putih Mulai Turun

Berbeda dengan beras dan minyak goreng, perkembangan nilai bawang putih menunjukkan perbaikan. BPS mencatat nilai rata-rata bawang putih pada minggu pertama Agustus 2026 mencapai Rp39.924 per kg, turun 4,95% dibandingkan Juli 2026.

Jumlah wilayah nan mengalami kenaikan IPH bawang putih juga turun tajam. Dari sebelumnya 248 kabupaten/kota, sekarang tinggal 50 kabupaten/kota nan tercatat mengalami kenaikan IPH bawang putih.

Amalia mengatakan, kondisi bawang putih saat ini sudah jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya.

"Jadi ini tinggal PR-nya sudah jauh relatif lebih baik, jauh lebih mini PR-nya lantaran jika kita lihat nomor impor bawang putih juga," sebut Amalia.

Meski begitu, nilai bawang putih secara nasional tetap berada di atas HAP Rp38.000 per kg. BPS mencatat beberapa wilayah tetap mempunyai nilai nan cukup tinggi, seperti Kabupaten Manokwari Selatan nan mencapai Rp63.750 per kg, Kabupaten Paniai Rp68.750 per kg, serta Kabupaten Kaimana Rp53.000 per kg.

Amalia mengatakan, pasokan bawang putih secara nasional semestinya cukup memadai lantaran impor sepanjang semester I-2026 sudah relatif besar.

"Nah ini sudah terus turun jika kita lihat secara kumulatif sudah relatif banyak. Dan impor bawang putih selama satu semester 2026 ini sudah 229.000 ton. Jadi nyaris 230.000 ton dan ini tentunya secara pasokan harusnya memadai," ujarnya.

Impor Bawang Putih Hampir 230 Ribu Ton

Data BPS menunjukkan impor bawang putih sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 229,76 ribu ton. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya nan tercatat 178,89 ribu ton.

Sebagian besar impor tersebut berasal dari China. Pada semester I-2026, impor bawang putih dari China mencapai 225,57 ribu ton alias 98,18% dari total impor.

India menjadi negara asal impor terbesar kedua dengan volume sekitar 4,18 ribu ton alias 1,82%.

"Seperti biasa 98% impor kita berasal dari Tiongkok lampau nan kedua dari India," kata Amalia.

Amalia menambahkan, jumlah wilayah nan mengalami kenaikan nilai bawang putih sekarang jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Karena itu, bawang putih dinilai relatif lebih terkendali meskipun tetap terdapat sejumlah titik nan perlu mendapat perhatian.

Dengan perkembangan tersebut, BPS memandang tekanan nilai pangan pada awal Agustus 2026 tidak seragam. Beras dan minyak goreng tetap perlu dicermati lantaran level harganya relatif tinggi, sedangkan bawang putih mulai menunjukkan tren penurunan dan tekanan kenaikan nilai di wilayah juga semakin menyempit.

Tangkapan layar dari paparan BPS dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (10/8/2026). (Dok.Kemendagri)_Tangkapan layar dari paparan BPS dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (10/8/2026). (Dok.Kemendagri)_ Foto: Tangkapan layar dari paparan BPS dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (10/8/2026). (Dok.Kemendagri)_

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya