Bukan Berpacaran, tapi Ini Cara Meredakan Masalah Kesepian yang Dialami Remaja

  • Whatsapp

Jakarta: Kesepian menjadi masalah kesehatan mental yang kerap dialami remaja pada masa pandemi covid-19 ini. Penyebabnya, ada pembatasan sosial yang memang itu merupakan tugas utama seorang remaja dalam proses perkembangan hidupnya.

Akibatnya, proses perkembangan hidup mereka terhenti. Sehingga terciptalah masalah-masalah tersebut, salah satunya kesepian.

Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arrum Listiyandini sempat melakukan penelitian terhadap remaja. Bersama dengan staf Pengajar Fakultas Psikolgi Universitas Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung Ario Bima Fathoni, mereka meneliti mengenai kebersyukuran, kesepian, dan distres psikologis pada mahasiswa di masa pandemi covid-19.

“Tapi hal yang menarik dari penelitian tersebut adalah, ketika mahasiswa mengalami tingkat kebersyukuran (rasa syukur) yang tinggi, maka tekanan yang mereka rasakan akan menjadi lebih rendah. Jadi rasa syukur sebagai faktor pelindung, agar tidak mengalami tekanan psikologis lebih tinggi,” terang Arrum saat wawancara virtual di program Selamat Pagi Indonesia Metro TV.

“Rasa syukur yang dimaksud adalah, bagaimana seseorang menghargai dan mengapresiasi hal-hal sederhana apa pun yang mereka alami dalam hidup mereka. Kebaikan sekecil apa pun,” sambungnya.

Jadi, riset menunjukkan dalam situasi sulit sekalipun sebetulnya ada banyak sekali kebaikan-kebaikan hidup yang bisa diapresiasi. Contohnya, bisa diberikan kesehatan atau kemampuan untuk bisa bernapas.

Ketika hal kecil itu diapresiasi oleh dirimu, maka itu akan membuatmu terus menerus memiliki perasaan yang positif. Sehingga meredakan gejala-gejala kecemasan, kesepian, depresi, hingga stres.
(FIR)

Pos terkait