Bukan Cuma Diabetes, Minuman Berpemanis Tingkatkan Risiko Kanker Lambung

2 jam yang lalu 4
Bukan Cuma Diabetes, Minuman Berpemanis Tingkatkan Risiko Kanker Lambung ilustrasi(Magnific)

KONSUMSI minuman manis secara berlebihan tidak hanya berakibat pada akibat obesitas alias diabetes, tetapi juga meningkatkan akibat seseorang terkena kanker lambung.

Temuan dari penelitian terbaru nan dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances mengungkapkan bahwa orang nan mengonsumsi minimal satu porsi minuman berpemanis tambahan setiap hari mempunyai akibat terkena kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka nan jarang meminumnya.

Sebelumnya, aspek akibat utama kanker lambung nan paling umum dikenal meliputi jangkitan kuman Helicobacter pylori (H. pylori), konsumsi alkohol berlebihan, kebiasaan merokok, usia lanjut, serta jenis kelamin laki-laki.

Wanita Berisiko Tiga Kali Lipat

Penelitian ini mencatat bahwa peningkatan akibat akibat konsumsi minuman manis terjadi baik pada wanita maupun pria. Namun, tingkat risikonya tercatat lebih tinggi pada golongan wanita:

  • Wanita: Memiliki akibat kanker lambung 3 kali lipat lebih tinggi.
  • Pria: Memiliki akibat 2 kali lipat lebih tinggi.

Uniknya, para peneliti mengonfirmasi bahwa hubungan antara konsumsi minuman manis dan kenaikan akibat kanker lambung ini berdiri sendiri dan tidak berangkaian dengan jangkitan kuman H. pylori.

Selain itu, minuman dengan pemanis buatan (seperti teh diet dan soda bebas kalori) tidak menunjukkan keterkaitan dengan peningkatan akibat kanker lambung.

Tim peneliti menduga senyawa fruktosa, pemanis utama nan lazim digunakan dalam industri minuman, sebagai salah satu benang merah utama. Asupan fruktosa nan tinggi terbukti berkorelasi positif dengan kasus kanker lambung, terutama pada populasi wanita.

Riset ini memanfaatkan info daridua studi kesehatan terlama di Amerika Serikat, yakni Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Penelitian melacak pola makan dan rekam medis sebanyak 112.284 peserta selama puluhan tahun, dengan mendokumentasikan 278 kasus kanker lambung terkonfirmasi.

Peserta secara rutin mengisi kuesioner gelombang makanan setiap empat tahun dengan porsi standar 8 ons (sekitar 236 ml), serta memperbarui info style hidup dan riwayat kesehatan tiap dua tahun. Analisis juga telah disesuaikan dengan aspek akibat lain, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini berkarakter observasional. Mayoritas peserta merupakan tenaga kesehatan berkulit putih berumur 30–75 tahun, sehingga dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan apakah temuan serupa bertindak pada golongan etnis lain maupun populasi usia muda. (Ant/P-4)

Selengkapnya