Jakarta, CNBC Indonesia - Beragam jenis beras dengan karakter unik sekarang semakin mudah ditemukan di ritel modern. Selain beras premium dan medium, konsumen dapat memilih beras long grain, beras untuk kebutuhan tertentu seperti diabetes, hingga beras fortifikasi nan diperkaya vitamin.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah menilai bertambahnya pilihan tersebut tidak serta-merta bakal menggeser keberadaan beras medium maupun premium di pasar ritel modern. Menurutnya, setiap produk mempunyai segmen konsumen masing-masing.
"Ya sebenarnya jika personil Hippindo mempunyai konsep ya, setiap market tuh punya kelas ya. Jadi ada beras nan (harus sesuai) HET (harga satuan tertinggi), ada beras nan memang mahal. Konsumen itu mempunyai daya beli masing-masing. Ya ada nan memang (mencari beras) organik misalnya," kata Budihardjo saat ditemui di Swissotel PIK Avenue, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Kendati demikian, Budihardjo menyebut pelaku ritel mempunyai tanggung jawab untuk memastikan produk nan dijual sesuai dengan info dan klaim nan tercantum pada kemasan. Hal ini krusial untuk menjaga perlindungan konsumen, terutama pada produk dengan karakter unik seperti beras organik alias beras fortifikasi.
"Namun nan kami harapkan, sebagai sektor ritel kami kan bukan produsen, menjualnya kudu sesuai. Kalau ngomongnya organik kudu organik. Jadi itu adalah perlindungan konsumen. Karena pada waktu kami didatengin supplier alias pabrik, ya kami percaya dengan penawarannya. Kami mendukung pemerintah jika ada ketidakbenaran dalam bungkusan alias produk itu ya kudu ditindak," ujarnya.
"Namun jika sudah betul dan memang di situ sudah harganya lebih mahal lantaran di dalamnya kontennya mungkin ada vitaminnya alias ada apanya, (membuat) kudu dijual lebih mahal, ya kami harapkan pemerintah dapat memberikan sesuai dengan harganya. Jadi kudu seperti itu," sambung dia.
Dia menilai tren beras unik muncul lantaran kebutuhan pasar nan semakin beragam. Karena itu, keberadaan produk-produk tersebut tidak berfaedah mengurangi pilihan konsumen terhadap beras medium alias premium.
"Sebenarnya jika menggeser juga nggak, masing-masing punya market. Ada nan orangnya diabetes, ya kayak gitu-gitu nan krusial begitu ngomong less sugar ya kudu less sugar gitu, nggak boleh lain sama kemasannya. Jadi semua ada marketnya," jelas Budihardjo.
Budihardjo menilai semakin beragamnya pilihan beras di ritel modern merupakan bagian dari upaya pelaku upaya menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan karakter konsumen. Menurutnya, perbedaan preferensi, termasuk dari konsumen penduduk negara asing nan tinggal di Jakarta, turut menciptakan permintaan terhadap produk pangan tertentu.
"Lebih menyesuaikan market nan ada saja gitu. Iya kan market sekarang juga terutama ini tadi kan banyak orang asing, daya beli juga di Jakarta jauh lebih tinggi. Nah orang asing kan apalagi orang Jepang ya dia maunya beras dari Jepang, ya itu kudu dipenuhi oleh market kita ya," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, menurut dia, pelaku ritel pada dasarnya hanya mengikuti kebutuhan konsumen. Semakin beragam permintaan pasar, semakin beragam pula produk nan disediakan di rak-rak ritel modern.
Budihardjo juga menegaskan pentingnya memastikan info nan tercantum pada bungkusan sesuai dengan produk nan dijual. Hal tersebut menjadi bagian dari perlindungan konsumen, terutama untuk produk nan dipasarkan dengan klaim alias karakter khusus.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]

15 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·