Bukan Krisis Talenta atau SDM, Ini Penyakit yang Hambat Pembinaan Atlet Muda Indonesia

1 jam yang lalu 3
Bukan Krisis Talenta alias SDM, Ini Penyakit nan Hambat Pembinaan Atlet Muda Indonesia ilustrasi ego sektoral.(MI)

PEMBINAAN atlet Indonesia tetap menghadapi sejumlah hambatan, salah satunya ego sektoral nan membikin program antarlembaga tak melangkah sinkron sehingga perlu diurai agar talenta olahraga berkembang secara berkepanjangan hingga mencapai level dunia, kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Lindsey Afsari Puteri.

"Bahwa tata kelola info nan tetap terfragmentasi, nan membikin pencarian talenta menjadi sporadis dan agak kurang terpantau. Kemudian pembinaan nan tetap ego sektoral, kurang sinkron antarlembaga," kata Lindsey dalam Road to Talent Fest 2026 Bidang Olahraga di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta, Kamis.

KSP mencatat akses kejuaraan nan belum merata di daerah, penerapan sport science yang belum optimal, serta belum adanya kepastian mengenai manajemen pekerjaan dan transisi masa depan atlet.

Menurut Lindsey, Indonesia mempunyai banyak potensi atlet, tapi tantangan utama terletak pada keahlian sistem pembinaan dalam menjaga perjalanan mereka sejak tahap pembibitan hingga prestasi tertinggi.

"Rantai pembinaan ini tidak boleh putus di tengah jalan," ujarnya.

Untuk mengatasinya, KSP mendorong lima pergeseran strategis dalam pengelolaan talenta olahraga, mulai dari penguatan orkestrasi dengan pembagian peran nan jelas antarpemangku kepentingan.

Berikutnya, membangun satu pedoman info atlet, menerapkan pembiayaan berbasis kinerja, memperkuat ekosistem pendukung atlet, serta pertimbangan secara berkala berasas perkembangan performa. Lindsey mencontohkan persoalan info sempat muncul ketika pemerintah menyiapkan program danasiwa perguruan tinggi dengan kuota 200 atlet.

KSP ketika itu mengalami kesulitan memperoleh pedoman info nan dibutuhkan meskipun jumlah atlet nan berpotensi menerima danasiwa cukup banyak. KSP juga mendorong agar pembiayaan olahraga tidak lagi disusun terlebih dulu tanpa merujuk pada sasaran nan hendak dicapai.

"Anggaran kudu mengikuti dokumen trajectory dan sasaran prestasi, bukan dibalik," kata Lindsey.

Menurut dia, keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur berasas jumlah talenta nan ditemukan, melainkan dari keahlian sistem mengawal atlet untuk terus berkembang hingga mencapai podium dunia. KSP bakal berkedudukan mengurai halangan dan mempercepat penyelenggaraan kebijakan tanpa mengambil alih kegunaan teknis kementerian dan lembaga terkait.

"Jangan biarkan satu pun talenta emas Indonesia kehilangan kesempatan juara hanya lantaran kelemahan koordinasi dan kerjasama ataupun sumbatan komunikasi di antara kita," ujar Lindsey. (Ant/P-3)

Selengkapnya