Bukan LPG, Beberapa Rumah Makan di Yogyakarta Lebih Pilih Pakai CNG

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa rumah makan di wilayah Sleman, Yogyakarta sudah memakai Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk bahan bakar operasional. Diantara nan memakai CNG adalah Restoran Payakumbuah dan juga Warung Nasi Goreng Mas Wit.

PIC Restoran Payakumbuah Yogyakarta, Adi Saputro menjelaskan, bahwa sejak restoran ini berdiri pada November 2024, pihakmnya memilih untuk memakai gas CNG sebagai operasional rumah makan Padang ini.

Alasannya, memakai CNG bakal lebih efisien daripada daya lainnya ialah LPG. Maklum, restoran ini menggunakan bahan bakar gas dengan kapabilitas 2.000 m³ (meter kubik) per bulan.

"Kalau nominal pastinya turun. Efisiensi bisa sampai 30% dari penggunaan daya lain, average-nya di sekitar jika kita pakai gas bisa sampai Rp 40 juta. Kalau menggunakan Gagas (CNG) kita bisa sampai di Rp 24 juta - 25 juta per bulan." terang Adi ditemui di Yogyakarta, dikutip Senin (24/8/2026).

Berkaitan dengan harga, kata Adi, untuk penggunaan CNG dikisaran Rp13.500 per meter kubik. Adapaun pemakaian CNG untuk Restoran Payakumbuah ini mencapai 1.900 sampai 2.000 m³.

Rumah Makan Padang Payakumbuah, Yogyakarta pakai CNG milik PGN. (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)Rumah Makan Padang Payakumbuah, Yogyakarta pakai CNG milik PGN. (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra) Foto: Rumah Makan Padang Payakumbuah, Yogyakarta pakai CNG milik PGN. (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)

"Harga itu kan tergantung pemakaian jumlah pemakaian. Kalau jumlah pemakaian segini harganya segini. Kalau jumlah pemakaian ini nilai segini. Ada ada sudah ada batasan-batasan, ada ada tabel nan sudah kita tetapkan. Jadi kita mudahlah," ungkap Adi.

Adi mengungkapkan argumen kenapa Payakumbuah memilih pakai CNG. Ia bilang, selain harganya kompetitif, anak upaya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ialah PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) memperhatikan tingkat keamanan pemakaian CNG.

"Ketika kita minta tukar tabung alias apa segala macam. Tapi ini saya apresiasi untuk Gagas, meskipun tanggal merah, meskipun libur, suplai CNG-nya tetap jalan terus. Jadi ini sebagai solusi nan terbaik untuk pengusaha-pengusaha nan menggunakan gas, jangan ragu-ragu. Jadi ini sangat rekomendasi sekali. Dari segi keamanan, efisiensinya. Efisiensi bisa sampai 30% dari pengunaan daya lain," tegas Adi.

Warung Nasi Goreng

Selain Restoran Payakumbuah, warung nasi goreng Mas Wit di Yogyakarta ini juga menggunakan CNG dengan klaster jaringan gas (jargas). Elin selaku pemilik warung nasi goreng ini menjelaskan bahwa pihaknya sudah mendengar lama mengenai jarga CNG ini dan memututuskan untuk beranjak penmggunaan dari LPG ke CNG jargas.

"Nah, kebetulan ditawarin siapa nan mau, terus kita mengusulkan diri untuk mau, nah terus. Mungkin selang berapa bulan terus dipasangkan gitu, dipasangkan di sini. Tanpa biaya sih saat itu, dan kita boleh menentukan titiknya mau di mana," terang Elin ditemui di Yogyakarta, dikutip Senin (24/8/2026).

Ia menjebarkan, dengn menggunakan CNG jargas ini, pihaknya bisa menghemat biaya hingga 40%-an. Dari nan sebelumnya per bulan bisa mencapai Rp1,5 juta - Rp 2juta dengan menggunakan LPG, sekarang pengeluarannya hanya sekitar Rp680.000 per bulan.

"Turun drastis. Hanya bayar sepertiga dari biasa penggunaan kami nan dulu," beber Elin.

Sekarang, dia merasa sudah tidak cemas kudu mencari stok tabung LPG, apalagi jika kondisi LPG sedang mengalami kelangkaan.
"Kadang kesulitan mencari gitu kan. Oh nan sana ada tapi sini kosong. Kadang langka nan ukuran ini 12 kg, kadang nan ini 3 kg, jadi kita kudu mix agar aman. Kalau sekarang sih enggak, udah enggak lantaran ini kan gasnya (CNG) tersedia," ungkap Elen.

Pengembangan CNG di Jawa

Berdasarkan info pengembangan CNG Point to Point Jawa Tengah Bagian Selatan, PGN Gagas saat ini mencatat 20 pengguna dengan total volume penyaluran sekitar 74.000 meter kubik per bulan. Wilayah jasa mencakup sejumlah letak di Sukoharjo, Yogyakarta, dan Magelang.

Yogyakarta menjadi salah satu pasar paling krusial dalam pengembangan upaya CNG Gagas. Dari daftar pelanggan, Bakpia Tugu Jogja tercatat sebagai pengguna dengan kebutuhan volume terbesar, mencapai sekitar 50.000 m³. Selain itu, Payakumbuh Jogja menyerap sekitar 2.000 m³, dan Platinum Hotel sekitar 1.500 m³.

Di Sukoharjo, pengguna nan tercatat antara lain Bening Big Tree dengan kebutuhan sekitar 3.000 m³, 12 titik Stasiun Pengisian dan Pemindahan Gas (SPPG) dengan total kebutuhan sekitar 12.000 m³, serta Aston Hotel Solo sekitar 1.500 m³. Sementara di Magelang, jasa CNG digunakan oleh dua titik SPPG dengan volume sekitar 2.000 m³ dan PGN Balkondes sekitar 2.000 m³.

Berdasarkan info prasarana klasterisasi CNG Jargas Sleman, jaringan tersebut telah didukung 1 unit Pressure Regulating Station (PRS), pipa DTM berdiameter 180 mm dan 90 mm sepanjang 15,9 kilometer, serta 5 unit Regulating Station (RS).

Sementara itu, jaringan pipa DTR berdiameter 63 mm mencapai 125,5 kilometer. Jika digabungkan, panjang jaringan nan tercatat dalam sistem tersebut mencapai sekitar 141,4 kilometer.

Dari sisi pelanggan, jaringan gas tersebut telah melayani 4.545 pengguna rumah tangga (SRT), 6 pengguna mini (PK), serta 4 pengguna komersial/industri (KI). Dengan demikian, terdapat 4.555 pengguna nan tercatat dalam jaringan tersebut.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya