ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan memasuki babak baru. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mulai meninggalkan kebiasaan memberikan perlakuan spesial kepada Israel dan menerapkan doktrin "America First" secara lebih konsisten terhadap sekutu dekatnya itu.
Laporan Politico menyebut pemerintahan Trump sekarang tidak lagi memandang Israel sebagai sekutu nan dikecualikan dari pendekatan kebijakan luar negeri tersebut. Seorang penasihat politik Israel nan identitasnya dirahasiakan mengakui Tel Aviv selama ini keliru menganggap posisinya bakal selalu berbeda dari sekutu AS lainnya.
"Kami secara naif bertaruh untuk dikecualikan dari prinsip 'America First'. Tetapi ini tidak bisa memperkuat lama. Kami tidak bisa tetap menjadi pengecualian untuk semua keputusan kebijakan luar negeri AS selama empat tahun," ujarnya, dikutip Selasa (30/6/2026).
Perubahan pendekatan Washington disebut semakin terlihat dengan munculnya Wakil Presiden AS J.D. Vance sebagai salah satu pendukung utama kebijakan tersebut. Menurut Politico, Vance apalagi mengingatkan para pejabat Israel agar tidak menganggap support Washington sebagai sesuatu nan pasti.
Ia menegaskan AS tetap menjadi "satu-satunya sekutu kuat" Israel. Tetapi hubungan kedua negara "tidak boleh dipandang sebagai agunan tanpa syarat".
Sinyal renggangnya hubungan kedua negara juga tercermin dari semakin minimnya komunikasi tingkat tinggi. Politico mencatat Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu lima kali berjamu ke Washington sepanjang 2025, namun pada 2026, ia baru sekali mengunjungi Gedung Putih, ialah pada Februari.
Mengutip sumber nan mengetahui pembahasan tersebut, Politico melaporkan belum ada rencana untuk kembali mengundang Netanyahu ke Gedung Putih. Bahkan, komunikasi langsung antara pejabat senior kedua negara disebut semakin jarang dilakukan.
"Yang terburuk belum datang," kata sumber tersebut.
Laporan ini memperkuat indikasi bahwa hubungan pribadi Trump dan Netanyahu juga sedang memanas. Sebelumnya, Axios melaporkan Trump melontarkan kritik keras kepada Netanyahu dalam percakapan telepon pada 2 Juni mengenai kebijakan Timur Tengah.
Menurut Axios, Trump mengaku kecewa dengan sikap Netanyahu dan menyebut pemimpin Israel itu sebagai "gila". Laporan tersebut juga menyebut Trump kemudian mengonfirmasi dirinya memang menggunakan julukan "orang gila terkutuk" saat percakapan tersebut, sebuah sinyal nan memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara kedua pemimpin.
Jika laporan tersebut akurat, perubahan sikap Washington berpotensi menjadi salah satu pergeseran terbesar dalam hubungan AS-Israel selama masa pemerintahan Trump. Selama bertahun-tahun, Israel dikenal sebagai sekutu paling dekat Washington di Timur Tengah. Namun kini, doktrin "America First" mulai diterapkan tanpa pengecualian, termasuk terhadap Israel.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·