Cari Kerja Kantoran Makin Susah, Gen Z Ramai Beralih ke Profesi Ini

48 menit yang lalu 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Mencari pekerjaan kantoran kini makin menantang bagi generasi muda. Masifnya penggunaan kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perusahaan melakukan otomatisasi dan efisiensi, nan pada akhirnya mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan manajemen dan perkantoran.

Di tengah kondisi tersebut, Generasi Z (Gen Z) mulai melirik jalur pekerjaan alternatif. Pekerjaan nan mengandalkan keahlian tangan alias dikenal sebagai pekerjaan kerah biru (blue-collar) justru kembali diminati.

Tren ini terlihat di Amerika Serikat (AS), di mana sejumlah sekolah mulai kebanjiran fans untuk kelas pertukangan, konstruksi, manufaktur, hingga pengelasan (welding). Menariknya, pekerjaan kerah biru saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan manual semata, melainkan telah berkembang menjadi pekerjaan berbasis teknologi tinggi (high-tech manufacturing).

Salah satu contohnya terlihat di SMA Middleton, AS. Sekolah tersebut menggelontorkan biaya hingga US$90 juta alias sekitar Rp1,5 triliun untuk memodernisasi laboratorium manufakturnya.

Di laboratorium tersebut, para siswa tidak hanya belajar menggunakan peralatan manual, tetapi juga mengoperasikan lengan robot pandai nan dikendalikan melalui komputer.

Kurikulum sekolah pun mulai menghidupkan kembali mata pelajaran nan terkenal pada era 1990-2000-an, seperti konstruksi, manufaktur, dan pertukangan kayu. Hasilnya, kelas vokasi modern tersebut sukses menarik sekitar 2.300 siswa dalam beberapa tahun terakhir.

Digaji Tinggi, Gen Z Mulai Lirik Profesi Teknis

Daya tarik pekerjaan tersebut salah satunya berasal dari potensi penghasilan nan cukup tinggi. Quincy Millerjohn, seorang pembimbing pengelasan, mengatakan pekerja di pabrik baja dapat memperoleh bayaran US$41 hingga US$52 per jam alias sekitar Rp727.000 hingga Rp922.000 per jam.

"Ada pergeseran paradigma. Pekerjaan tangan sekarang menjadi pekerjaan dengan skill tinggi (high-skill) dan bergaji tinggi (high-paying). Ini sangat menarik bagi anak muda lantaran mereka bisa langsung menciptakan sesuatu dengan tangan mereka sendiri," ujar John Mihm, konsultan pendidikan pemerintah negara bagian Wisconsin, dikutip Sabtu (15/8/2026).

Menurut Mihm, kekhawatiran anak muda terhadap ancaman AI di sektor manajemen turut mendorong pergeseran minat tersebut. Gen Z mulai mencari keahlian bentuk nan dinilai lebih susah digantikan oleh algoritma digital.

Fenomena ini juga terlihat dalam industri AI itu sendiri. Ketika perusahaan teknologi melakukan efisiensi dan memangkas sejumlah pekerjaan kantoran, kebutuhan terhadap tenaga teknis untuk membangun prasarana AI justru meningkat.

Salah satu pekerjaan nan sekarang banyak dibutuhkan adalah teknisi listrik (electrician), terutama untuk pembangunan dan pengoperasian pusat info (data center) AI.

Pembawa aktivitas televisi Mike Rowe mengatakan perusahaan AI di Silicon Valley apalagi berani bayar teknisi listrik muda dengan penghasilan mencapai ratusan ribu dolar per tahun.

Dalam podcast Power Players, Rowe menceritakan pengalamannya berjumpa teknisi listrik Gen Z nan bekerja di sebuah pusat info AI di Plano, Texas.

"Para teknisi listrik nan saya wawancarai dan temui dua bulan lampau di sebuah info center di Plano, Texas, semuanya berumur di bawah 30 tahun, dan semuanya menghasilkan US$240.000 hingga US$280.000 per tahun," kata Rowe, dikutip dari India Today, Jumat (31/7/2026).

Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp17.900 per dolar AS, penghasilan tersebut setara dengan sekitar Rp4,3 miliar hingga Rp5 miliar per tahun.

Rowe juga menyebut para teknisi listrik muda tersebut mempunyai kesempatan memperoleh penghasilan tambahan melalui lembur. Selain itu, keahlian mereka membikin sejumlah perusahaan lain turut memburu tenaga kerja tersebut.

"Mereka bisa bekerja lembur sebanyak nan mereka inginkan, tidak punya utang, dan ketiganya dibajak perusahaan lain tiga kali dalam 18 bulan terakhir," ujarnya.

Ledakan Infrastruktur AI Dongkrak Permintaan Pekerja Teknis

Meningkatnya kebutuhan terhadap teknisi listrik tidak terlepas dari pesatnya pembangunan prasarana AI. Pusat info menjadi komponen krusial lantaran sistem AI memerlukan ribuan GPU untuk menjalankan beragam model dan layanan.

Semakin besar kebutuhan terhadap AI, semakin banyak pula pusat info nan kudu dibangun. Kondisi ini kemudian menciptakan permintaan baru terhadap pekerja bangunan dan tenaga teknis.

Laporan Fortune menyebut pekerja bangunan nan terlibat dalam proyek pembangunan pusat info di AS mendapatkan premi bayaran sekitar 32% lebih tinggi dibandingkan pekerja pada proyek bangunan tradisional. Tambahan pendapatan tersebut mencapai sekitar US$81.800 per tahun.

Tren pembangunan pusat info juga mulai berkembang pesat di negara lain. Di India, misalnya, Google telah mengumumkan proyek Google AI Hub senilai US$15 miliar di Visakhapatnam. Sementara itu, Meta membangun pusat info melalui kemitraan dengan Reliance Jio.

Besarnya pembangunan prasarana tersebut sekaligus memperketat kesiapan tenaga kerja. Sektor bangunan pusat info apalagi disebut sebagai salah satu bagian bangunan nan paling mengalami keterbatasan kapabilitas secara global.

Tidak hanya teknisi listrik, pekerjaan kerah biru lainnya seperti tukang ledeng, mekanik, teknisi umum, hingga pekerja bangunan juga tetap mempunyai permintaan tinggi.

15 Pekerjaan nan Terancam Terdampak AI

Pergeseran minat Gen Z menuju pekerjaan teknis tidak terlepas dari kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan kantoran. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) melalui laporan Future of Jobs memperkirakan sekitar 83 juta lapangan kerja berisiko lenyap sepanjang 2023-2027 akibat perubahan teknologi dan otomatisasi.

Laporan tersebut juga memperkirakan sekitar 23% pekerjaan di beragam sektor bakal mengalami perubahan. Industri media, hiburan, dan olahraga menjadi salah satu sektor nan diproyeksikan mengalami akibat besar, dengan sekitar 32% pekerjaannya berpotensi lenyap alias berubah.

Sejumlah pekerjaan manajemen dan konvensional juga masuk dalam daftar pekerjaan nan menghadapi tekanan akibat perkembangan teknologi.

Berikut 15 pekerjaan nan diproyeksikan mengalami penurunan permintaan:

  1. Teller bank

  2. Petugas pos

  3. Kasir dan petugas loket tiket

  4. Staf entri info (data entry)

  5. Sekretaris dan staf administrasi

  6. Staf pencatat stok (stock-keeping)

  7. Staf akuntansi, pembukuan, dan penggajian (payroll)

  8. Legislator dan pejabat pemerintahan

  9. Staf statistik, asuransi, dan keuangan

  10. Sales door-to-door, pedagang kaki lima, dan penjual koran

  11. Petugas keamanan (satpam)

  12. Manajer angsuran dan pinjaman

  13. Penyelidik dan pemeriksa klaim asuransi

  14. Penguji perangkat lunak (software tester)

  15. Relationship manager

Di tengah perubahan tersebut, pekerjaan nan memerlukan keahlian teknis, keahlian fisik, serta skill nan susah sepenuhnya diotomatisasi justru berkesempatan semakin dibutuhkan.

Bagi Gen Z, pergeseran ini membikin pekerjaan kerah biru tidak lagi sekadar menjadi pilihan alternatif. Dengan perkembangan teknologi nan ikut masuk ke sektor manufaktur dan konstruksi, pekerjaan tersebut mulai berubah menjadi jalur pekerjaan dengan keahlian tinggi sekaligus menawarkan potensi pendapatan nan menarik.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya