Ilustrasi(Magnific)
PENGGUNA Zoom perlu lebih waspada. Aplikasi konvensi video tersebut baru saja memperbaiki celah keamanan nan berpotensi memungkinkan penyerang mengambil alih perangkat korban hanya melalui fitur nan tersedia saat rapat berlangsung.
Dilansir dari Telset kerentanan tersebut ditemukan peneliti keamanan dari A Security. nan membikin temuan ini semakin menarik, proses untuk menemukan hingga mengeksploitasi celah tersebut dapat dilakukan dengan support model AI publik dan hanya memerlukan kurang dari 20 perintah.
Celah Berawal dari Fitur Anotasi
Kerentanan ditemukan pada fitur catatan Zoom. Fitur ini sebenarnya dirancang untuk membantu peserta rapat memberikan tanda alias coretan pada layar ketika seseorang sedang melakukan presentasi.
Namun, celah pada fitur tersebut rupanya dapat dimanfaatkan untuk menjalankan kode rawan pada perangkat pengguna. Dalam skenario serangan, pelaku dapat masuk ke dalam rapat alias menjadi host, kemudian memanfaatkan kerentanan tersebut untuk melakukan tindakan nan semestinya tidak dapat dilakukan.
Risikonya bukan sekadar gangguan selama rapat. Menurut laporan Telset pemanfaatan ini berpotensi memungkinkan penyerang mencuri data, memasang malware, hingga mengaktifkan kamera dan mikrofon tanpa sepengetahuan korban. Bahkan, serangan tersebut disebut tidak selalu memberikan tanda visual bahwa perangkat telah sukses dikompromikan.
Kondisi inilah nan membikin celah tersebut menjadi perhatian serius. Pengguna bisa saja mengikuti rapat seperti biasa tanpa menyadari bahwa perangkatnya sedang menjadi sasaran.
AI Membuat Eksploitasi Lebih Cepat
Hal lain nan menjadi sorotan adalah gimana kerentanan tersebut sukses dieksploitasi.
A Security mengungkapkan mereka menggunakan pemasok AI dan model nan tersedia untuk publik untuk membantu menghasilkan pemanfaatan nan berfungsi. Proses nan sebelumnya bisa memerlukan skill tinggi dan waktu panjang tersebut sukses dilakukan dalam waktu sekitar satu hari.
Temuan ini memperlihatkan perubahan krusial dalam bumi keamanan siber. AI tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk membantu menemukan dan memperbaiki celah keamanan, tetapi juga berpotensi digunakan untuk mempercepat proses pembuatan serangan.
Artinya, perkembangan AI menghadirkan dua sisi nan melangkah bersamaan. Teknologi nan sama dapat membantu peneliti melindungi sistem, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh pihak nan mempunyai niat buruk.
Zoom Sudah Merilis Perbaikan
Kabar baiknya, Zoom telah merilis pembaruan untuk mengatasi kerentanan tersebut. Perbaikan tersedia untuk sejumlah platform, termasuk Windows, macOS, Linux, Android, dan iOS. Pengguna disarankan segera memperbarui aplikasi Zoom ke jenis terbaru.
Imbauan tersebut sejalan dengan info pada Buletin Keamanan resmi Zoom. Perusahaan secara rutin menerbitkan info mengenai kerentanan nan ditemukan pada produknya dan merekomendasikan pengguna memasang jenis terbaru untuk mendapatkan perbaikan serta peningkatan keamanan.
Zoom juga menerapkan kebijakan siklus hidup perangkat lunak nan menetapkan jenis minimum untuk sejumlah produknya. Pada Agustus 2026, kebijakan tersebut mencakup aplikasi Zoom Workplace di Windows, macOS, Linux, iOS, dan Android.
Jangan Menunda Pembaruan
Bagi pengguna Zoom, langkah paling sederhana sekaligus krusial adalah memastikan aplikasi nan digunakan sudah mendapatkan pembaruan terbaru.
Pembaruan perangkat lunak bukan hanya soal mendapatkan fitur baru. Dalam banyak kasus, pembaruan justru berisi perbaikan terhadap celah nan dapat dimanfaatkan penyerang.
Kasus Zoom juga menjadi pengingat bahwa aplikasi nan digunakan setiap hari, termasuk untuk rapat kerja, kuliah, maupun komunikasi pribadi, tetap mempunyai akibat keamanan. Terlebih ketika teknologi AI membikin proses menemukan dan mengembangkan pemanfaatan menjadi semakin cepat.
Karena itu, jangan menunggu sampai muncul tanda-tanda asing pada perangkat. Perbarui Zoom secara berkala, gunakan aplikasi dari sumber resmi, dan tetap waspada terhadap aktivitas mencurigakan selama menggunakan jasa konvensi video. (Telset/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·