Cerita Sedih Soeharto soal Meninggalnya Panglima Besar Soedirman

  • Whatsapp

JAKARTA – Pada 29 Januari 1950 justru, setelah berlangsungnya pengakuan atas kedaulatan RI, setelah bendera Merah Putih Biru diturunkan di Istana, dan diganti dengan Sang Merah Putih, Panglima Besar Soedirman meninggal dunia.

Padahal, di siang hari yang cerah Pak Dirman yang bekas guru itu masih sempat memeriksa rapor putra-putrinya. Tetapi belum sempat beliau menandatanganinya, sakit hebat tiba­tiba menyerangnya. Dan Pak Dirman tak berdaya. Pertolongan diberikan dengan sedapat mungkin. Tetapi malang, beliau tak bisa diselamatkan.

Pada sore hari kira-kira pukul 18.30, Pak Dirman menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dengan ini, bukan saja keluarganya, istrinya dan tujuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil yang terpukul, tetapi seluruh jajaran angkatan bersenjata kita kehilangan seorang pemimpin teladan yang amat besar.

Baca juga: Heboh! Benua Australia Bergeser ke Indonesia Ramai Dibahas di Jagat Maya

Baca juga: Anies Terbitkan Kepgub PPKM Level 4, Ini Isinya

Saat itu, Soeharto yang telah membereskan kembali Brigade saya dengan berkedudukan di Yogya setelah pengakuan kedaulatan, ditunjuk untuk memimpin pengangkutan jenazah Panglima Besar Soedirman dari Magelang ke Yogya pada tanggal 30 Januari.

Seluruh Angkatan Perang RIS diperintahkan berkabung selama tujuh hari, dengan mengibarkan bendera setengah tiang. Pemerintah menjadikannya Hari Berkabung Nasional dengan wafatnya Panglima Besar itu.

Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta dalam pidatonya mengumumkan keputusan pemerintah, menaikkan pangkat Letnan Jenderal Soedirman secara anumerta menjadi Jenderal.

“Saya pimpin iringan jenazah almarhum itu meninggalkan Magelang menuju Yogya. Setelah disembahyangkan di Mesjid Agung, jenazah dikebumikan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogya, di tempat peristirahatan terakhir Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, pendampingnya,” Presiden kedua Indonesia, Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

Pos terkait