Jakarta, CNBC Indonesia - Peta pusat industri di Indonesia berpotensi semakin melebar. Madura, Jawa Timur, tengah disiapkan menjadi salah satu area industri baru dengan masuknya penanammodal dari beragam negara. Di sisi lain, wilayah Priangan Tasikmalaya di Jawa Barat, juga didorong naik kelas menjadi pusat industri mebel dan kerajinan nan berorientasi ekspor.
Sementara di Jawa Barat, Tasikmalaya sudah lama dikenal dengan keahlian pengrajin mengolah bambu, mendong, kayu, serat alam dan beragam produk handmade. Namun, itu belum cukup untuk membawa Tasikmalaya masuk ke persaingan industri global. Pelaku upaya kudu mulai mengubah langkah bermain, dari sekadar menerima pesanan menjadi perusahaan nan bisa membangun pasar sendiri.
"Masalah utama Priangan bukan kekurangan talenta. nan perlu kita benahi adalah mindset, positioning, sistem, dan akses terhadap pasar. Kita kudu mengubah langkah berpikir dari sekadar 'bisa membuat' menjadi 'mampu menguasai pasar'," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Abdul, karakter industri dunia sekarang membikin buyer tidak hanya memandang apakah sebuah perusahaan bisa menghasilkan produk nan bagus. Konsistensi kualitas, keahlian memenuhi pesanan, kapabilitas produksi, ketepatan pengiriman, profesionalisme dan keberlanjutan menjadi aspek nan semakin menentukan.
"Buyer bumi membeli kepastian, bukan sekadar benda," ujar Abdul Sobur.
Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel di area Daanmogot, Tangerang, Banten, Jumat (18/2/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel di area Daanmogot, Tangerang, Banten, Jumat (18/2/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Pengembangan industri Priangan semestinya tidak hanya terpaku pada produk bambu alias mendong. Material lain seperti kayu, kombinasi kayu dengan anyaman, metal dan tekstil juga dapat dikembangkan, termasuk produk dekorasi, suvenir hingga premium lifestyle products. Tujuannya adalah memperluas jenis produk tanpa kehilangan karakter lokal. Material nan digunakan boleh berbeda, tetapi standar kualitas nan ditawarkan kepada pasar dunia kudu tetap tinggi.
Selain itu perlu diubah posisi pelaku dalam rantai industri. Perusahaan nan selama ini berkedudukan sebagai subkontraktor didorong naik menjadi OEM alias Original Equipment Manufacturer, kemudian ODM alias Original Design Manufacturer, membangun merek sendiri hingga akhirnya mempunyai akses langsung kepada buyer.
Untuk mempercepat proses itu, HIMKI mendorong pemetaan sekitar 30-50 perusahaan potensial di Priangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 perusahaan bakal dikurasi untuk menjadi calon eksportir nan lebih siap masuk pasar internasional. Targetnya dalam enam hingga 12 bulan mulai muncul pesanan ekspor pertama alias ekspor nan kembali aktif. Dalam 12-36 bulan, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan repeat order sekaligus memperluas negara tujuan.
"Tasik tidak kudu menjadi Jepara kedua. Jadilah Tasik nan terbaik-kuat pada perincian tangan, kaya material, lincah berproduksi, dan dipercaya dunia. Jangan hanya menjadi pengrajin terbaik di Priangan. Jadilah eksportir nan membikin bumi datang ke Priangan," kata Sobur.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·