Dana SAL Rp281 T Masuk Bank BUMN, Ekonomi Optimistis Perang Bunga Reda

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom buka bunyi soal penempatan biaya pemerintah sebesar Rp 281 triliun di bank pelat merah, Himbara. Kebijakan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di DPR RI, kemarin, Senin (29/6/2026).

Sejumlah ahli ekonomi menilai penempatan kembali biaya pemerintah di bank Himbara dapat meredam 'perang bunga' antar bank nan terjadi akibat kekeringan likuiditas beberapa waktu terakhir.

Kepala Ekonom BCA, David E. Sumual mengatakan akibat langsung dari penempatan kembali biaya pemerintah di bank Himbara dapat menurunkan tingkat kembang antar bank, sehingga ada potensi transmisi ke kembang lainnya. Namun, dia mengingatkan transmisi ini biasanya memerlukan waktu nan sedikit lama.

"Dampak langsungnya memang otomatis bakal menurunkan tingkat kembang interbank, sehingga punya potensi transmisi ke kembang lainnya seperti kembang deposito. Namun, transmisi ini biasanya memerlukan waktu tidak langsung," kata David saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (29/6/2026).

David menambahkan, jika pemerintah mau meningkatkan pertumbuhan angsuran tetap tinggi menggunakan penempatan biaya ini, maka dapat mendorong rasio kesanggupan bank dalam memenuhi tanggungjawab jangka pendeknya alias loan to deposit ratio (LDR).

"Apabila pemerintah nantinya berencana memacu pertumbuhan angsuran tetap tinggi menggunakan biaya ini, tentunya punya potensi mendorong tingkat LDR, sehingga bisa menahan laju penurunan suku kembang interbank alias malah stagnan di level saat ini," terangnya.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengungkapkan dengan mengalirkan biaya pemerintah dari BI kembali ke Bank Himbara, terjadi pembuatan duit beredar di sistem ekonomi nan sebelumnya terserap melalui instrumen pajak maupun publikasi SBN. Langkah ini dirancang untuk membanjiri sistem perbankan guna menekan biaya dana.

"Harapannya, suku kembang lending pasar bakal menyesuaikan ke bawah, nan tidak hanya merangsang undisbursed loan menjadi disbursed, tetapi juga memperbaiki sentimen prospek ekonomi di mata penanammodal asing-sebuah katalis krusial untuk mencegah capital outflow dan menjaga stabilitas depresiasi Rupiah," kata Myrdal kepada CNBC Indonesia.

Dia pun mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah untuk penempatan biaya SAL di Bank HIMBARA adalah murni instrumen Manajemen Kas, bukan penyertaan modal negara (PMN) alias subsidi.

Uang ini adalah likuiditas nan secara siklikal diserap dari perekonomian dan sekarang dikembalikan agar perputaran roda finansial tidak mengalami stagnasi. Meski demikian, Kementerian Keuangan tetap memberikan forward guidance nan tegas bahwa perbankan tidak boleh menjadikannya sebagai ketergantungan struktural.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa elastisitas penarikan biaya pemerintah adalah akibat likuiditas (funding risk) nan kudu dimitigasi sendiri oleh treasury management di masing-masing bank.

"Industri perbankan kudu tetap garang dalam memobilisasi biaya pihak ketiga inti dan tidak menggunakan biaya pemerintah ini sebagai substitusi dari kegunaan intermediasi tradisional," ujarnya.

Keputusan LPS

Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk meningkatkan tingkat kembang penjaminan (TBP) menjadi 3,75% untuk simpanan di bank umum dan 6,25% di Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Juni 2026 dan bertindak untuk periode 1 Juli hingga 1 September 2026.

Namun, LPS tetap mempertahankan TBP simpanan valas di level 2,00%.

Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Simpanan & Resolusi Bank, Doddy Zulverdi membeberkan keputusan itu didasari oleh kecenderungan kembang simpanan rupiah di seluruh golongan bank sudah condong terus meningkat. Ia mengatakan kondisi ini merupakan respon perbankan terhadap perkembangan suku kembang kebijakan dan juga kondisi pasar finansial nan terjadi, baik itu nan terjadi di dunia maupun di domestik.

Ia menyebut keahlian pertumbuhan simpanan rupiah sejauh ini tetap relatif tinggi namun terdapat beberapa potensi bahwa simpanan rupiah tersebut bakal pertumbuhannya bakal melambat. Sedangkan untuk pertumbuhan simpanan valas diperkirakan dalam kondisi saat ini bakal meningkat.

Kemudian aspek nan ketiga adalah kondisi likuiditas perbankan, nan disebut tetap terjaga di semua golongan bank. Namun, Doddy mengatakan terdapat indikasi terjadinya peningkatan kejuaraan suku kembang di antara beragam golongan bank.

Faktor lainnya adalah tingkat cakupan penjaminan simpanan tetap di atas nan ditatapkan undang-undang ialah minimum 90%. Tetapi, dengan perkembangan kondisi terkini itu sudah ada sedikit kecenderungan menurun dan perlu diantisipasi LPS untuk tidak berlanjut.

"Itu adalah beberapa aspek nan kami pertimbangkan, tentu saja penetapan ini kemudian juga berasas sebuah kajian nan lebih komplit mengenai kondisi sistem finansial dan perbankan," tutur Doddy saat Konferensi Pers Penetapan TBP LPS periode sewaktu-waktu, secara virtual, Kamis (25/6/2026) lalu.

(chd/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya