Peluncuran Indonesia Podcast Festival (IPF) 2026 di Jakarta, Kamis (20/8).(Dok. MI)
PRESENTER sekaligus podcaster Deddy Corbuzier menilai pembuat tidak semestinya hanya mengandalkan pendapatan dari YouTube dalam memonetisasi podcast. Menurutnya, kekuatan utama podcast justru terletak pada keahlian membangun kepercayaan audiens dan membuka kesempatan bisnis.
Deddy mengatakan jumlah penonton bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah podcast. Audiens nan lebih kecil, tetapi loyal dan percaya kepada kreator, dinilai bisa mempunyai nilai ekonomi nan lebih besar.
“Kita nggak boleh berpikir sempit, ‘Oh, monetisasinya dari duit YouTube.’ Duit YouTube mini banget,” kata Deddy dalam rangkaian peluncuran Indonesia Podcast Festival (IPF) 2026 di Jakarta, Kamis (20/8).
Menurut Founder Close The Door itu, podcast dapat menjadi media bagi seseorang untuk memperkenalkan pengetahuan, kemampuan, dan karakter kepada publik. Dari sana, kesempatan dapat berkembang mulai dari kerja sama dengan brand, seminar, mengajar, hingga menjadi konsultan.
Deddy mencontohkan seorang podcaster dengan skill tertentu nan mungkin hanya mempunyai ribuan penonton. Namun, andaikan audiens tersebut betul-betul tertarik pada keahliannya, satu orang saja dapat membuka kesempatan kerja alias bisnis.
“Kalau seribu nan nonton dan penonton seribu itu into ke dia, saya hanya butuh satu orang, lho, untuk bisa hire dia untuk sesuatu,” ujarnya.
Ia juga meminta pembuat pemula tidak mudah kehilangan motivasi hanya lantaran jumlah penonton tetap ratusan.
“Kalau penonton hanya 800 orang, Anda bayangin 800 orang dikumpulin. Ramai, lho itu,” katanya.
Deddy turut mendorong orang dengan pekerjaan dan skill tertentu, termasuk jurnalis, untuk mulai membangun media sendiri.
“Buat kontenmu sendiri. Buat podcastmu sendiri suatu hari. Karena Anda punya pengetahuan nan orang lain belum tentu punya,” ucapnya.
IPF 2026 Dimulai dari Makassar
Pandangan tersebut menjadi salah satu semangat nan dibawa Indonesia Podcast Festival 2026. Festival siniar nasional nan diinisiasi Close The Door berbareng Double Group itu bakal digelar secara roadshow di Makassar, Medan, Banjarmasin, Surabaya, dan Jakarta.
Makassar menjadi kota pertama penyelenggaraan pada 24-25 Oktober 2026.
“Indonesian Podcast Festival menjadi momen ketika bumi podcast nan selama ini hanya bisa didengar, akhirnya bisa dirasakan dan disaksikan secara langsung. Ini bukan sekadar festival, tapi pertemuan nyata antara pembuat dan pendengarnya,” kata Deddy.
IPF 2026 digagas di tengah tingginya konsumsi podcast di Indonesia. Berdasarkan laporan We Are Social per Februari 2025, sebanyak 42,6% responden di Indonesia rutin mengonsumsi podcast setiap pekan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia sebesar 22,1%.
Namun, persebaran pembuat podcast tetap dinilai belum merata dan banyak terkonsentrasi di Jakarta.
Founder Double Group Ichal Tawil mengatakan Makassar dipilih sebagai titik awal lantaran ekosistem pembuat dan pendengar podcast di Indonesia Timur dinilai mempunyai potensi besar untuk berkembang.
“Makassar dipilih sebagai kota pertama lantaran kami percaya ekosistem pembuat dan pendengar podcast di Indonesia Timur sudah siap punya panggungnya sendiri,” katanya.
IPF 2026 mengusung konsep One Stage & Infinity Story dengan mempertemukan podcaster nasional dan local heroes. Festival ini bakal menghadirkan talk show interaktif, Blind Podcast, stand-up comedy, serta beragam aktivitas komunitas.
Founder Top Coach Indonesia, Tom Mc Ifle, mengatakan IPF tidak hanya dirancang sebagai tontonan, tetapi juga pengalaman nan mempertemukan kreator, pendengar, UMKM, dan organisasi lokal.
Ke depan, IPF diharapkan menjadi intellectual property berkelanjutan nan dapat memperluas ekosistem podcast di beragam wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi imajinatif lokal. (Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·