Distribusi Bantuan Gempa NTT Terkendala Geografis, BNPB Kerahkan Helikopter

4 jam yang lalu 2
Distribusi Bantuan Gempa NTT Terkendala Geografis, BNPB Kerahkan Helikopter Bantuan ke sejumlah pos lapangan di desa terdampak kudu dikirim langsung menggunakan helikopter.(Dok. SAR Maumere)

TANTANGAN geografis dan terbatasnya moda transportasi menjadi hambatan utama dalam pengedaran support ke sejumlah wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini menyebabkan penyaluran logistik tidak dapat dilakukan sepenuhnya melalui jalur darat maupun laut.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa support ke sejumlah pos lapangan di desa-desa terdampak kudu dikirimkan langsung menggunakan helikopter untuk menembus akses nan sulit.

“Pendistribusian langsung ke pos lapangan di desa dilakukan langsung oleh BNPB melalui helikopter,” ujar Berton pada Sabtu (22/8).

Berton menjelaskan bahwa secara umum, pengedaran support dilakukan secara berjenjang. Logistik dikirim dari Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma menuju airport transit, ialah Bandara Labuan Bajo dan Bandara Maumere.

Dari kedua airport tersebut, support diteruskan ke posko kabupaten, kemudian ke tingkat kecamatan, hingga akhirnya sampai di pos lapangan desa terdampak. Namun, untuk wilayah dengan aksesibilitas rendah, pola ini dipangkas demi kecepatan penanganan.

“Jadi, biasanya jika kami menyampaikan support ke Pulau Palue, kami secara langsung ke pos lapangan, bukan ke pos di kabupaten,” jelas Berton. Langkah ini diambil guna memastikan kebutuhan dasar penduduk tetap terpenuhi di tengah keterbatasan transportasi.

Klarifikasi Distribusi di Manggarai Timur

Terkait tantangan di lapangan, Berton menyoroti kondisi geografis di Kabupaten Manggarai Timur nan cukup berat. Ia juga memberikan penjelasan mengenai pemberitaan tentang ketidaksesuaian jumlah support saat proses serah terima di Kecamatan Lamba Leda Utara.

Ia menegaskan bahwa personel BNPB di letak tersebut bekerja untuk pendampingan dan pemantauan, sementara tanggung jawab pengiriman peralatan berada di bawah kendali Posko Kabupaten Manggarai Timur. Berton menyebut support nan terlihat di letak saat itu memang baru sebagian lantaran pengiriman dilakukan secara berjenjang menyesuaikan kesiapan moda angkut.

Dukungan Medis: KRI Dr. Soeharso dan RS Terapung

Selain logistik, penanganan medis bagi korban gempa terus diperkuat. KRI Dr. Soeharso-990 milik TNI Angkatan Laut telah bersandar di Pelabuhan Reo sejak Jumat (21/8). Kapal rumah sakit ini mempunyai kapabilitas rawat inap hingga 75 pasien dan dilengkapi akomodasi ruang operasi.

Kehadiran kapal ini mendukung dua rumah sakit lapangan nan telah beraksi di Lapangan Waso dan Lapangan Wangkong, Reo, Kabupaten Manggarai. Selain itu, Rumah Sakit Terapung Kapal Kesatria Airlangga juga telah bersandar di Teluk Nanga Lirang, Manggarai Timur, pada Sabtu (22/8) untuk memperluas jangkauan jasa kesehatan.

Prioritas Penanganan: BNPB menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar penduduk adalah prioritas utama. Pemerintah mengapresiasi kerjasama antara akademisi, tenaga medis, relawan, dan TNI/Polri dalam percepatan penanganan pascabencana di NTT.

Berton mengimbau seluruh pihak nan terlibat untuk terus menjaga koordinasi serta memperhatikan aspek keselamatan selama bekerja di lapangan. “Kami mengimbau agar seluruh pihak mengenai tetap menjaga koordinasi dengan baik untuk kepentingan penduduk terdampak,” pungkasnya. (PO/I-1)

Selengkapnya