Jakarta, CNBC Indonesia - Strategi ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menekan Iran menghadapi tantangan besar, ialah China. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di bumi itu menjadi pembeli utama minyak Iran dan jalur krusial bagi perdagangan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan apa nan disebut "Operasi Ekonomi Outcast", dengan ancaman hukuman terhadap negara-negara nan tetap berbisnis dengan Iran. Namun, efektivitas kebijakan tersebut sangat berjuntai pada apakah Washington bisa membatasi akses Iran ke pasar China.
China selama ini membeli sebagian besar ekspor minyak Iran nan nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS per tahun. Beijing juga secara konsisten menolak hukuman sepihak AS dan menegaskan haknya untuk mempertahankan hubungan jual beli dengan Iran maupun Rusia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan Beijing bakal mengambil langkah nan diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Ia juga memperingatkan kebijakan tersebut justru dapat meningkatkan ketegangan dan akibat terhadap perekonomian global.
"Perang ekonomi dan tekanan maksimum tidak bakal membantu menyelesaikan masalah ini," ujarnya, seperti dikutip CNN International, Kamis (27/8/2026).
Tekanan Washington datang menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS bulan depan. Pertemuan tersebut dinilai krusial untuk menjaga gencatan senjata perdagangan kedua negara, sehingga ancaman hukuman terhadap perusahaan China berpotensi memperumit hubungan Washington-Beijing.
Analis dari Shanghai Institutes for International Studies, Zhao Long, menilai ruang bagi China untuk memenuhi tuntutan AS sangat terbatas. China menurutnya tidak mungkin menerima situasi di mana Washington menentukan apa nan dapat diperdagangkan secara legal oleh perusahaan China dengan negara ketiga.
China sendiri selama bertahun-tahun menggunakan jaringan perdagangan nan relatif terisolasi dari sistem dolar AS untuk membeli minyak Iran. Kilang independen nan dikenal sebagai "teapot refinery", berbareng jaringan pelabuhan, kapal tanker dan lembaga keuangan, memungkinkan perdagangan tersebut tetap melangkah meski berada di bawah tekanan sanksi.
Namun, AS tetap mempunyai sejumlah titik tekanan. Max Meizlish dari Foundation for Defense of Democracies mengatakan sejumlah perusahaan nan terlibat mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan milik negara China nan terintegrasi dengan sistem dolar AS, sehingga Washington dapat menargetkan anak upaya untuk menekan induknya.
Bessent sebelumnya juga mengungkapkan bahwa Washington telah memperingatkan dua bank China mengenai transaksi dengan Iran. Ia apalagi menegaskan tidak ada pihak nan berada di luar jangkauan hukuman AS, termasuk bank maupun perusahaan pelayaran China.
Meski demikian, Beijing mempunyai perangkat tawar nan kuat dan dapat membalas jika Washington menyasar bank-bank besar China. Di sisi lain, China tetap membuka ruang untuk mendorong perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, termasuk memulihkan jalur perdagangan di Selat Hormuz, tetapi menegaskan langkah tersebut bukan berfaedah membantu strategi tekanan maksimum Trump terhadap Iran.
"Jika Washington melewati periode pemisah itu, Beijing nyaris pasti bakal merespons," kata Sun Chenghao dari Center for International Security and Strategy, Tsinghua University, seraya memperingatkan bahwa pertemuan Trump-Xi dapat berubah dari upaya stabilisasi menjadi pengendalian kerusakan.
(luc/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·