Dosen ITB, Dzikri Firmansyah Hakam.(Dok.Istimewa)
PEREKONOMIAN Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi dunia dan gejolak pasar keuangan. Pada kuartal II 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY), tetap berada di atas level 5% meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026. Pertumbuhan tersebut berjalan ketika perekonomian dunia tetap menghadapi beragam tantangan, mulai dari bentrok geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas pasar finansial dan nilai tukar.
Dalam Pidato Kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional. Sepanjang semester I 2026, realisasi investasi disebut mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.
Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam menyatakan keahlian ekonomi kuartal II, perlu dilihat dengan membedakan dinamika pasar finansial dan aktivitas ekonomi riil. Perubahan sentimen di pasar finansial berjalan jauh lebih sigap dibandingkan perubahan pada konsumsi, kredit, investasi, produksi, dan tenaga kerja. Tekanan di pasar finansial belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pelemahan aktivitas ekonomi riil.
"Tekanan pasar keuangan, pada tahap awal lebih banyak memengaruhi nilai aset, alokasi portofolio, arus investasi portofolio asing, risk premium, serta persepsi terhadap daya tarik investasi Indonesia. Dampak terhadap sektor riil baru bakal semakin terasa andaikan tekanan tersebut bersambung menjadi kenaikan biaya modal, perlambatan investasi, penurunan ekspansi perusahaan, hingga berkurangnya pembuatan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat," paparnya, Sabtu (22/8).
Dinamika tersebut kata Dzikri,.salah satunya terlihat dari rumor investability Indonesia. Pada Juni 2026, MSCI menyoroti persoalan transparansi pemegang saham dan coordinated trading di pasar saham Indonesia serta membuka kemungkinan konsultasi mengenai perubahan pengelompokkan Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market andaikan perbaikan nan diperlukan belum terlihat pada November 2026. Di sisi lain, arus modal asing menunjukkan perkembangan nan tidak sepenuhnya sejalan dengan tekanan di pasar saham.
*Bank Indonesia mencatat investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 mengalami net inflow sebesar US$8,5 miliar, terutama menuju Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Perkembangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai perubahan preferensi dan alokasi portofolio, bukan semata-mata keluarnya modal asing secara menyeluruh,” jelasnya.
PERMINTAAN DOMESTIK
Dzikri menilai permintaan domestik tetap menjadi salah satu alas utama perekonomian Indonesia. Konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 tumbuh 5,06% YoY, meski melambat dari 5,52% pada kuartal sebelumnya. Dengan porsinya nan besar dalam struktur ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga tetap memberikan kontribusi krusial terhadap pertumbuhan.
Kemampuan rumah tangga mempertahankan konsumsi juga ditopang kondisi inflasi nan relatif terkendali. Inflasi pada Juni 2026 tercatat 3,34% YoY dan tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus-minus 1%.
“Tekanan terhadap daya beli belum berkembang menjadi gejolak inflasi nan cukup besar untuk menekan konsumsi secara luas. Selain konsumsi, aktivitas ekonomi juga didukung penyaluran angsuran perbankan. Pada Juni 2026, angsuran perbankan tumbuh 12,67% YoY. Kredit investasi tumbuh 24,90%, angsuran modal kerja 8,94%, sedangkan angsuran konsumsi tumbuh 5,75%. Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang penyaluran angsuran baru meningkat menjadi 93,08% pada kuartal II 2026, dari 38,74% pada kuartal I," bebernya.
Menurut Dzikri, kondisi tersebut menunjukkan kegunaan intermediasi perbankan tetap berjalan. Selama kegunaan intermediasi perbankan berjalan, volatilitas pasar modal tidak serta-merta menghentikan produksi, investasi, dan konsumsi. Belanja pemerintah juga menjadi aspek nan menjaga momentum pertumbuhan.
Konsumsi pemerintah pada kuartal II 2026 tumbuh sekitar 15,97% YoY, meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 21,81% pada kuartal I. Pertumbuhan konsumsi pemerintah didukung realisasi sejumlah program prioritas, percepatan belanja, pembayaran penghasilan ke-13 bagi ASN, serta support sosial. Konsumsi masyarakat juga mendapat support melalui support pangan dan stimulus transportasi.
"Belanja pemerintah memberikan akibat langsung terhadap pertumbuhan sekaligus berpotensi menciptakan pendapatan bagi rumah tangga dan perusahaan. Pendapatan tersebut kemudian dapat kembali mendorong konsumsi dan aktivitas produksi. Dengan demikian, pertumbuhan kuartal II 2026 terutama ditopang permintaan domestik dengan support kebijakan fiskal," terangnya.
PERKUAT KEPERCAYAAN SWASTA
Dari sisi investasi lanjut Dzikri, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87% pada kuartal II 2026 dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Namun, dia mengingatkan pertumbuhan investasi tidak otomatis mencerminkan meningkatnya kepercayaan penanammodal swasta. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, pertumbuhan investasi terutama didukung investasi gedung nan berangkaian dengan Program Kerja Prioritas Nasional. Sementara itu, investasi swasta tetap perlu diperkuat.
"Karakter investasi nan mempunyai siklus penyelenggaraan relatif panjang juga membikin proyek nan sudah memasuki tahap bangunan alias pengadaan tidak serta-merta dihentikan hanya lantaran perubahan sentimen pasar dalam waktu singkat. Karena itu, ketahanan investasi tidak selalu berfaedah ketahanan kepercayaan penanammodal swasta,” ujarnya.
Dzikri menyebut, dinamika sektor eksternal juga perlu diperhatikan. Pada Mei 2026, ekspor Indonesia tercatat US$23,20 miliar, sedangkan impor mencapai US$24,81 miliar sehingga terjadi defisit sekitar US$1,61 miliar. Meski demikian, secara kumulatif Januari-Mei 2026, neraca perdagangan tetap mencatat surplus US$4,03 miliar.
Pada periode tersebut, impor tumbuh 15,24%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor nan mencapai 3,02%. Namun peningkatan impor tidak selalu mencerminkan pelemahan ekonomi. Impor dapat menunjukkan meningkatnya kebutuhan bahan baku, peralatan antara, energi, mesin, dan peralatan modal untuk menopang produksi serta investasi domestik.
“Sektor eksternal memang belum menjadi sumber utama ketahanan pertumbuhan pada kuartal II, tetapi tekanannya juga belum cukup besar untuk mengimbangi kekuatan permintaan domestik,” ujarnya.
MASIH ADA BANTALAN
Secara keseluruhan, Dzikri menilai pertumbuhan 5,29% menunjukkan perekonomian Indonesia mempunyai sejumlah alas untuk menghadapi tekanan eksternal.
Permintaan domestik tetap bertahan, angsuran perbankan tetap ekspansif, kebijakan fiskal memberikan dukungan, sejumlah proyek investasi terus berjalan, dan persediaan devisa berada pada posisi relatif kuat. Pada akhir Juni 2026, persediaan devisa Indonesia tercatat sekitar US$145,6 miliar alias setara dengan sekitar 5,5 bulan impor.
Kondisi tersebut menunjukkan perekonomian Indonesia dalam jangka pendek tetap mempunyai keahlian menyerap tekanan dari pasar finansial maupun lingkungan ekonomi global.
Namun, ketahanan tersebut perlu diikuti dengan upaya menjaga kepercayaan, memperkuat suasana investasi, dan memastikan tekanan pasar finansial tidak berkembang menjadi tekanan nan lebih besar terhadap sektor riil.
“Pertumbuhan 5,29% merupakan bukti bahwa ekonomi Indonesia mempunyai kapabilitas menyerap tekanan dalam jangka pendek. Tantangannya adalah gimana menjaga kapabilitas tersebut agar dapat mendukung pertumbuhan nan berkelanjutan,” tutupnya. (E-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·