Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan Bali

46 menit yang lalu 1
Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan Bali Ketua Yayasan Shri Kesari Warmadewa Prof. Anak Agung Gede Oka Wisnumurthi.(Dok istimewa)

EKOWISATA tidak boleh sekadar menjadi semboyan pemasaran alias komodifikasi keelokan alam demi kepentingan ekonomi sesaat. Pengembangan ekowisata di Bali kudu bisa memberikan akibat dan kontribusi nyata nan berkepanjangan bagi upaya konservasi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Shri Kesari Warmadewa, Prof Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, saat memberikan sambutan dalam pembukaan International Conference on Agricultural Innovation and Ecotourism Environment (CAITEC 2026) pada Jumat (14/8) di area Sanur, Bali.

Konferensi internasional nan mengusung tema "Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Ecotourism Practices in the Issue of Climate Change" itu diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa sebagai Host utama. Kegiatan kolaboratif ini turut didukung oleh sejumlah perguruan tinggi mitra sebagai Co-Host, ialah Institut Teknologi dan Kesehatan Bali, Universitas Dhyana Pura, Universitas Markandeya, Universitas Dwijendra, serta Universitas Pelita Bangsa.

Dalam pandangannya, Prof. Wisnumurti menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip konservasi ke dalam ranah pariwisata berbasis lingkungan dan sistem pertanian lokal. Menurutnya, di tengah ancaman perubahan suasana dunia nan makin nyata, sektor ekowisata dan pertanian berkepanjangan kudu melangkah selaras untuk menopang ketahanan pangan sekaligus menjaga daya dukung ekosistem pulau Bali.

"Ekowisata dan pertanian adalah dua sektor vital nan saling menopang. Pengembangan ekowisata kudu berakar pada pemeliharaan kelestarian alam dan kebudayaan, sehingga bisa memberikan faedah ekologis nan terukur serta berakibat langsung pada penguatan ekonomi masyarakat," paparnya di hadapan para akademisi, peneliti, dan praktisi internasional nan hadir.

Forum CAITEC 2026 ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti dari beragam negara dan lembaga perguruan tinggi mitra untuk merumuskan ide, penemuan teknologi pertanian, serta model tata kelola ekowisata nan adaptif terhadap perubahan iklim.

Melalui kerjasama lintas akademisi dan perguruan tinggi ini, hasil perumusan dari CAITEC 2026 diharapkan tidak berakhir pada tataran wacana akademis belaka, melainkan dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan praktik nyata di lapangan demi menjaga keberlanjutan lingkungan Bali dan dunia.

Sedangkan personil Kelompok Ahli Gubernur Bali, Prof Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, menegaskan pentingnya arah kebijakan dan izin pengembangan pertanian berkepanjangan nan berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Bali, Sad Kerthi. 

"Pengembangan sistem pertanian organik di Bali tidak hanya bermaksud meningkatkan nilai dan kualitas produk pertanian, tetapi juga menjaga ekosistem alam serta keanekaragaman hayati. Hal ini diatur secara tegas melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik," paparnya. 

Prof. Suryawan juga menyoroti komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mengendalikan alih kegunaan lahan produktif melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2026, nan melarang alih kegunaan lahan produktif untuk akomodasi upaya pariwisata dan properti demi menjaga kelestarian Subak dan mewujudkan kedaulatan pangan. Selain itu, perlindungan terhadap sumber-sumber air seperti danau, mata air, sungai, dan laut turut diperkuat lewat Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020. 

Pada kesempatan nan sama, Associate Professor Michael van Keulen, Dekan Fakultas Ilmu Lingkungan dan Konservasi Universitas Murdoch, soroti tantangan mendasar dalam konservasi lingkungan modern, ialah kejadian shifting baseline syndrome (sindrom pergeseran garis dasar).

Menurut Mike van Keulen, sains modern kerap mengalami masalah ingatan (memory problem), ialah info ilmiah terukur hanya tersedia untuk rentang waktu kurang lebih 100 tahun terakhir. Padahal, akibat aktivitas manusia terhadap ekosistem laut telah berjalan jauh lebih lama. Hal ini menyebabkan setiap generasi intelektual dan masyarakat menetapkan standar "kondisi alamiah/normal" nan terus menurun dibandingkan kondisi aslinya.

"Jika kita melupakan kondisi awal ekosistem nan sebenarnya, kita berisiko menetapkan sasaran konservasi dan pemulihan lingkungan nan salah alias terlalu rendah (inappropriate targets)," tegas van Keulen.

Lebih lanjut, dia memperingatkan ancaman creeping normality atau normalisasi terhadap lingkungan nan sudah rusak, serta sikap puas diri (conservation complacency) nan membikin ancaman terhadap kepunahan jenis sering kali terlambat disadari.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Mike van Keulen menekankan pentingnya mengintegrasikan catatan sejarah, info lama, serta cerita dan kearifan lokal (anecdotal records/stories) ke dalam riset ilmiah. Para intelektual juga dituntut untuk menyederhanakan komunikasi publik agar kesadaran bakal pentingnya menjaga ekosistem original dapat terbangun secara luas di masyarakat. (RS/E-4) 

Selengkapnya