Menko Polkam Djamari Chaniago.(MI/Devi Harahap)
PEMERINTAH mewaspadai ancaman El Nino kuat nan diperkirakan melanda Indonesia pada awal September hingga bersambung sampai awal Oktober 2026. Fenomena cuaca tersebut dinilai berpotensi mempercepat dan memperluas kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan hingga sekarang telah mencapai sekitar 107.000 hektare.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago mengatakan kondisi cuaca nan semakin kering menjadi salah satu aspek nan dapat memperberat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
“Situasi alias cuaca nan sangat-sangat keras dihadapi oleh kita sekarang biasanya disebut dengan El Nino nan kuat, nan sudah bertindak dan mulai bertindak sekarang sampai dengan awal September, awal Oktober nan bakal datang,” kata Djamari dalam Konferensi Pers tentang Penanganan Karhutla di Kantor Kemenko Polkam, Senin (10/8).
Menurut Djamari, kondisi tersebut bakal mempercepat proses terjadinya kebakaran rimba dan lahan. Karena itu, pemerintah memperkuat beragam upaya pemadaman, baik melalui operasi udara maupun darat. “Sampai dengan hari ini wilayah kita di Indonesia nan terbakar rimba terhitung 107.000 hektare,” ujarnya.
Djamari mengatakan pemerintah telah mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mengantisipasi meluasnya karhutla. Dalam operasi udara, pemerintah telah mengoperasikan sekitar 43 helikopter, ditambah pesawat nan dapat digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran. “Dalam melakukan operasi udara, kita menerapkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini,” katanya.
Dia menilai operasi udara melalui modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah paling efektif untuk membantu mengatasi karhutla. Teknologi tersebut memungkinkan pemerintah memicu hujan di wilayah nan memerlukan pasokan air untuk membasahi area rawan terbakar. “Operasi udara sebetulnya sangat efektif, menimbulkan hujan buatan dan dilakukan oleh BNPB. Itu nan paling efektif,” kata Djamari.
Akan tetapi, penyelenggaraan operasi modifikasi cuaca (OMC) menghadapi hambatan lantaran memerlukan keberadaan awan hujan nan dapat disemai. Tanpa awan nan memadai, operasi tersebut tidak dapat dilakukan secara optimal. “Kita menemukan ada awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa ditemukan, tidak ada, kita tidak bakal bisa membikin hujan buatan,” ujarnya.
Atas dasar itu, pemerintah bakal terus memantau perubahan cuaca, sekecil apa pun, untuk menentukan momentum penyelenggaraan OMC. Djamari juga menyebut berasas perkiraan cuaca, terdapat kesempatan munculnya awan hujan dalam beberapa hari hingga 18 Agustus. “Berdasarkan perkiraan sekarang ini, pada minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus, ada tiga alias empat hari kemungkinan awan hujan ada,” katanya.
Dia berambisi kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan operasi modifikasi cuaca, terutama menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. “Mungkin menjelang 17 Agustus ini, semoga itu bakal keluar awan hujan itu,” ujar Djamari.
Meski demikian, pemerintah tidak hanya mengandalkan operasi udara. Berbagai strategi pemadaman darat juga disiapkan untuk menghadapi keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi.
Selain itu, Djamari mengatakan pemerintah menyiapkan elastis tank nan dapat dipindahkan ke letak kebakaran. Selain itu, pembuatan sumur di area tertentu juga menjadi pengganti untuk memastikan kesiapan air bagi petugas pemadam. “Segala langkah kita lakukan,” katanya.
Djamari juga menegaskan bahwa ancaman El Nino kudu diantisipasi serius lantaran kondisi tersebut dapat membikin kekeringan semakin panjang dan meningkatkan kerentanan area terhadap kebakaran. “El Nino terkuat itu adalah satu keadaan di mana keadaan itu sangat membikin kita kekeringan dan mudah selalu terbakar. Kemarau bakal lebih panjang,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah bakal memperkuat koordinasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BNPB, TNI, Polri, dan unsur mengenai lainnya untuk mencegah karhutla berkembang menjadi musibah nan lebih besar. “Pekerjaan itu tidak bisa dikerjakan oleh satu badan pun. Berbagai macam unsur nan ada di masyarakat kita,” kata Djamari. (Dev/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·