Eropa-Kanada Ngamuk ke Israel, Marah Besar Lihat Ini

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Israel untuk membuka tender pembangunan sekitar 1.200 unit rumah permukiman di area strategis Tepi Barat nan diduduki telah memicu kecaman keras dari negara-negara besar Barat.

Mengutip BBC International, Jumat (21/08/2026), Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Kanada langsung mengeluarkan pernyataan berbareng nan menuntut agar Israel segera membatalkan rencana tersebut lantaran dinilai sama sekali tidak dapat diterima. Banyak negara sekutu beserta pihak Palestina menilai pembangunan ini bakal memukul telak angan solusi dua negara, serta secara efektif membelah Tepi Barat menjadi dua dan mengisolasi Yerusalem Timur.

Perwakilan sekutu Eropa dan Kanada melalui pernyataan berbareng pada hari Kamis memberikan peringatan tajam atas situasi keamanan nan makin kritis akibat proyek tersebut.

"Pada saat ketidakstabilan nan parah di Tepi Barat dengan tingkat kekerasan nan belum pernah terjadi sebelumnya oleh pemukim terhadap penduduk sipil, dan pembatasan serius pada ekonomi Palestina, keputusan ini apalagi lebih mengkhawatirkan. Rencana ini tidak hanya bakal menjauhkan kita dari perdamaian, tetapi juga makin merusak kedudukan internasional Israel," tegasnya.

Dalam pernyataan terpisah, Sekretaris Jenderal PBB dan Menteri Luar Negeri Belgia juga sepakat bahwa rencana E1-sebutan untuk area proyek tersebut-menimbulkan ancaman eksistensial absolut bagi negara Palestina nan bersebelahan. Di sisi lain, kecaman keras nan sempat dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, pada hari Kamis langsung ditolak mentah-mentah oleh Menteri Luar Negeri Israel.

Sebagai latar belakang, semua permukiman Israel di wilayah tersebut sejatinya berstatus terlarangan di bawah norma internasional. Di bawah tekanan dunia nan besar, Israel sempat menahan diri selama beberapa dasawarsa untuk tidak membangun proyek di area E1 nan terletak di sebelah timur Yerusalem.

Namun, di tengah adanya tantangan norma dari penduduk Palestina Badui nan tinggal di wilayah itu serta golongan perdamaian Israel, Kementerian Perumahan Israel pada hari Rabu justru secara resmi merilis tender untuk 1.234 dari total 3.401 unit rumah nan sebelumnya telah disetujui pemerintah pada Agustus lalu. Proyek garang ini mencakup area seluas sekitar 12 kilometer persegi nan membentang tepat di antara Yerusalem Timur dan permukiman Maale Adumim.

Saat proyek maut ini pertama kali diresmikan, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich nan dikenal sebagai sosok ultranasionalis secara provokatif menyatakan bahwa pendapat tentang negara Palestina sekarang perlahan sedang dihapus. Adapun pemisah waktu untuk proses penawaran tender ini ditetapkan pada 19 Oktober, nan mana agenda tersebut jatuh hanya beberapa hari menjelang pemilihan umum Israel. Sempitnya waktu ini diyakini merupakan siasat agar pemerintahan mana pun di masa depan bakal sangat kesulitan untuk membatalkan tender nan telah telanjur dikeluarkan.

Sejak menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada perang Timur Tengah 1967, Israel diketahui telah membangun sekitar 160 permukiman nan sekarang menampung 700.000 penduduk Yahudi, berdampingan dengan sekitar 3,3 juta penduduk Palestina nan mendambakan wilayah itu dan Gaza sebagai negara berdaulat mereka di masa depan.

Meskipun ditentang keras oleh bumi internasional, pemerintah Israel dari masa ke masa terus membiarkan permukiman tersebut tumbuh subur. Ekspansi ini meledak makin tajam sejak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali berkuasa pada akhir 2022 dengan koalisi sayap kanan pro-pemukim, serta kian dipicu oleh meletusnya perang Gaza usai serangan golongan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.

Para penentang keras proyek E1 memperingatkan bahwa manuver ini bakal secara efektif memblokir total pembentukan negara Palestina lantaran memutus Tepi Barat bagian utara dari bagian selatan, serta mencegah pengembangan area perkotaan berkepanjangan nan menghubungkan wilayah Ramallah, Yerusalem Timur, dan Betlehem.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya