Fahri Hamzah Bicara Masa Depan Indonesia Butuh Sosok Pemimpin seperti Philosopher King

2 jam yang lalu 3

loading...

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah. Foto: Istimewa

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah mengingatkan bahwa kunci keberhasilan negara melintasi disrupsi era di era digital ini berada pada perpaduan utuh antara kekuasaan (power) dan kapabilitas intelektual (ilmu). Hal tersebut dikatakannya dalam Kajian Wawasan Kebangsaan berjudul "Memahami Statecraft: Mengelola Negara di Era AI" pada Jumat (21/8/2026) malam.

"Kekuasaan tanpa pengetahuan sangat berbahaya, sedangkan pengetahuan tanpa kekuasaan menjadi lemah dan tidak berdaya. Masa depan Indonesia memerlukan sosok pemimpin nan bertindak layaknya philosopher king—memiliki otoritas kekuasaan nan efektif sekaligus kebijaksanaan berbasis pengetahuan pengetahuan," tegasnya.

Fahri menggarisbawahi kriteria kepemimpinan nan relevan menghadapi disrupsi masa depan, ialah integrasi antara kapabilitas intelektual dan otoritas kekuasaan—serupa konsep philosopher king. "Kekuasaan itu hanya ada dua sisi: power dan ilmu. Ke depan, dua perihal ini tidak boleh terpisah. Kita tidak mau orang berkuasa tapi tidak berilmu, alias orang berilmu tapi lemah tanpa kekuasaan. Kekuasaan tanpa pengetahuan bakal sangat rawan bagi masa depan bangsa dan kemanusiaan," ujarnya.

Baca juga: Fahri Hamzah Dorong Pembentukan Peradilan Etika untuk Cegah Korupsi Sejak Dini

Fahri Hamzah menekankan bahwa pengelolaan negara di era disrupsi digital dan kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut pemahaman mendalam tentang statecraft alias seni mengelola negara serta visi kepemimpinan nan berorientasi lintas generasi.

Fahri menjelaskan bahwa statecraft merupakan skill komprehensif seorang pemimpin untuk mengorkestrasi seluruh komponen bangsa—mulai dari rakyat, wilayah, hingga struktur kekuasaan dan pemerintahan. Menurutnya, konsep ini erat kaitannya dengan nilai kenegarawanan (statesmanship).

"Politisi hanya berpikir tentang pemilu berikutnya, sementara jika negarawan berpikir tentang generasi berikutnya," ujar Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Selengkapnya